Bangka SelatanBeritaDaerah

Misteri Timah Puluhan Ton dari Kapal Isap Produksi “Mati”, Warga Permis-Rajik Meradang!

Bukan Hasil Produksi KIP

Informasi lain yang diperoleh media ini menyebutkan bahwa KIP Pirat 1 dan Isamar itu tidak selalu melakukan aktifitas penambangan tapi lebih banyak berperan sebagai penampung hasil tambang timah dari kolektor.  “KIP itu diduga hanya sebagai kedok karena cuma sesekali beroperasi tapi jumlah pasir timah produksinya lebih 1000 ton pertahun. Darimana timah sebanyak itu, tidak diketahui secara pasti” kata sumber media ini.

Menurut sumber,  KIP ini beroperasi di area IUP Pemerintah Daerah Bangka Selatan diduga menampung timah dari kolektor lalu diakui sebagai produksi mereka. “KIP itu hanya tipu tipu termasuk juga tentang kompensasi terhadap masyarakat dan desa,” katanya.

PT SMB diduga membeli timah dari kolektor, kemudian mengklaimnya sebagai hasil produksi KIP di Laut Permis. Asal-usul timah tersebut tidak jelas, menimbulkan pertanyaan tentang legalitasnya. “Hebat KIP di Laut Permis tuh, nggak jalan tapi menghasilkan timah puluhan ton,” ujarnya.

Ia menduga Laut Permis hanya kamuflase PT SMB untuk melegalkan timah hasil pembelian di  IUP Pemda Bangka Selatan. Pertanyaan tentang tujuan pengiriman dan proses peleburan timah tersebut juga belum terjawab. Transparansi dari perusahaan dan perlunya aparat penegak hukum (APH) terlibat dalam kegiatan KIP yang tidak transparan tersebut.

Baca juga  Spesial Hardiknas ! Klinik dan Apotek DRH Toboali Beri Diskon Khusus untuk Guru

“Terhadap masyarakat kecil yang ber TI, APH cepat bertindak dengan melakukan razia. Bentar di razia sebentar-sebentar di stop, di kejar, dicari, ada yang di tangkap, dikit-dikit sebut ilegal dan berwajah sangar. Tapi giliran ini ada yang sudah jelas salah, tidak diusut. Ini sama saja membiarkan kejahatan dan korupsi besar, pura-pura buta,” kata beberapa  warga.

Warga yang ditemui di beberapa tempat di Pantai Desa Rajik itu  juga menuntut agar aktivitas KIP diperiksa secara menyeluruh, termasuk produksi pasir timah, ekspor, dan tujuan  pengirimannya. “Kampung kami hanya kambing hitam pengusaha, kalau bahasa kampungnya, tipu-tipulah kami orang kampung ni,” kata warga yang sekaligus berharap KIP tersebut minggat dari desa mereka.

Sementara salah satu pimpinan di PT SMB yang diketahui bernama Senja dan disebut sebut sebagai Komisaris di PT SMB ketika dihubungi ke nomor HP, 0822 80xx 0xx4, diduga miliknya,  sekitar sekitar pukul 21.30 Minggu (20/7/2025) tentang keberadaan dan operasional KIP belum memberikan jawaban hingga berita ini dipublikasikan.(tim)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles