Konflik Iran-Israel Ungkap Mitos Kekuatan Militer, Teguh: Dunia Sedang Kalibrasi Ulang

Bila rakyat Israel semakin marah, maka posisi Benjamin Netanyahu di panggung politik domestik pun akan semakin sulit.
Di sisi lalin, Teguh mengatakan bahwa perang adalah kelanjutan dari diplomasi, atau perang adalah diplomasi dengan cara yang lain. Iran sebatas membalas serangan Israel yang dijamin dalam pasal 51 Piagam PBB yang memberi hak bagi satu negara untuk membalas serangan negara lain.
“Ada istilah an eye for an eye,” ujarnya.
Menurut Teguh, Iran menggunakan perang ini untuk mengajak Israel berdialog. Paling tidak, Iran ingin menyampaikan pesan bahwa mereka tidak bisa menjadi korban bullying Israel.
“Israel selalu mengatakan bahwa Iran adalah kekuatan di balik perlawan rakyat Palestina. Tetapi satu hal yang Israel lupa, kalau kita menerima two tate solution sebagai jalan keluar yang kredibel di kawasan (antara Israel dan Palestina), maka seharusnya Israel juga mengakui dan menghormati garis demarkasi dan nilai-nilai kemanusian rakyat Palestina, terutama di Gaza saat ini,” tegas Teguh Santosa.
Peran Indonesia
Pada bagian lain, Teguh juga mengatakan bahwa Indonesia berpeluang untuk memainkan peran yang lebih substansial di tengah situasi yang terus memburuk ini.
Politik luar negeri “good neighbour” yang dikembangkan Presiden Prabowo Subianto menjadi semacam kata kunci yang harus dielaborasi dan dikonkretkan Indonesia di arena internasional, khususnya dalam .
“Sikap Indonesia seperti yang disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono sudah tepat. Indonesia mengimbau agar kedua negara menempuh cara damai untuk menyelesaikan sengketa di antara mereka,” kata Teguh.




