Rina Tarol Bongkar Persoalan Pertanian Babel: Irigasi Dipangkas, LP2B Terancam, Petani Merugi

Dampak kerusakan lingkungan dari alih fungsi lahan pertanian kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat tani. Di kawasan Sukubul, misalnya, kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) telah memicu penurunan debit air permukaan hingga dua meter.
Kondisi serupa dialami kawasan Bikang yang sebelumnya berfungsi sebagai zona tangkapan air. Area penopang irigasi tersebut kini sebagian besar telah beralih rupa menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Bagaimana mungkin pasokan air bisa mencukupi hampir 3.000 hektar sawah jika kawasan hulu dan DAS-nya hancur? Jika pun ingin memanfaatkan lahan cadangan air, seharusnya ditanami tanaman palawija, bukan kelapa sawit yang menyedot banyak air,” tutur Rina.
Sorotan publik tak berhenti pada tataran kebijakan daerah. Efektivitas proyek infrastruktur keairan yang digarap Balai Wilayah Sungai (BWS) bernilai ratusan miliar rupiah turut dipertanyakan kualitasnya.
Berdasarkan serapan aspirasi warga saat masa reses, Rina menyebut sejumlah infrastruktur fisik bentukan BWS disinyalir tak bertahan lama dan gagal mengurai kendala teknis para petani.
“Kucuran dana ratusan miliar harusnya membawa kesejahteraan bagi petani. Fakta di lapangan menunjukkan saluran irigasi yang baru rampung justru retak-retak. Pengerjaan kolong penampung air pun asal-asalan, sehingga petani tetap terjebak banjir saat hujan dan mengalami kekeringan ketika kemarau,” ungkapnya.
Guna mengatasi kebuntuan tersebut, DPRD mendesak adanya konsolidasi ketat antara pemerintah provinsi dan kabupaten dalam memetakan serta melindungi LP2B.
Aparat penegak hukum juga diminta proaktif menindak indikasi pidana alih fungsi lahan maupun perusakan lingkungan tanpa pandang bulu. (**)




