
Pada tahun 2025, Perseroan juga terus melakukan efisiensi dan optimalisasi biaya dalam bentuk penurunan fixed costmelalui investasi selektif ke investasi penunjang operasi untuk memitigasi kenaikan beban depresiasi dan menjaga stabilitas arus kas. Selain itu, Perseroan juga melakukan penurunan interest bearing debt sebagai bagian dari strategi pengelolaan liabilitas, sehingga dapat menekan beban bunga
antara lain melalui pelaksanaan buyback atas MTN.
Di sisi operasional, PT TIMAH mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn, produksi logam timah sebesar 17.815 metrik ton, sementara penjualan logam timah tercatat 16.634 metrik ton.
Sepanjang 2025, pasar ekspor masih menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 95 persen, dengan negara tujuan utama antara lain Singapura, Korea Selatan, Jepang, Belanda, Italia, dan China. Kontribusi penjualan ekspor Perseroan mencapai sekitar 24% dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050
metrik ton, serta menyumbang sekitar 3% dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.
Dari sisi operasional, perusahaan terus memperkuat kegiatan penambangan baik di darat maupun laut. Di darat, PT TIMAH meningkatkan jumlah titik tambang dan memperkuat eksplorasi melalui bor pandu. Sementara di laut, perusahaan mengoptimalkan kinerja Kapal Isap Produksi (KIP) serta meningkatkan efektivitas pengolahan melalui fasilitas SHP KIP dan PIP.
PT TIMAH optimis akan melanjutkan kinerja positif di tahun ini, pasalnya prospek harga timah masih cukup menjanjikan yang diperkirakan berada di kisaran USD 33.500 hingga USD 48.750 per ton pada tahun 2026.
Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan dari industri elektronik, semikonduktor, chips serta digitalisasi dan Artificial Intellegence. Di sisi fundamental, pengetatan pasar timah didorong oleh terbatasnya pasokan dari Indonesia, Myanmar, MSC dan DRC yang diperparah oleh regulasi, konflik dan pemeliharaan produksi.
Menghadapi peluang tersebut, PT TIMAH menyiapkan sejumlah strategi pada 2026, antara lain akselerasi produksi dan optimalisasi cadangan, ekspansi hilirisasi dan diversifikasi produk, transformasi digital dan keberlanjutan (ESG), optimalisasi dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis, optimaliasi kinerja anak perusahaan, aset non operasi dan sinergi lainnya dalam mendukung keberlanjutan Perseroan. (*)




