Kontraktor Seenaknya, Pemerintah Tutup Mata? Proyek Belasan Miliar di Bangka Tengah Abai K3

Mirisnya lagi, saat tim mencoba mendokumentasikan kondisi lapangan, kami justru mendapat intimidasi. “Foto-foto lagi, foto-foto lagi. Duit lagi, duit lagi!” teriak seseorang dari area proyek. Kalimat itu bukan hanya bentuk penghinaan terhadap profesi jurnalis, tapi juga memperlihatkan mentalitas bobrok yang melekat dalam pelaksanaan proyek.
Upaya konfirmasi kepada pemilik CV. Pelita Sari, Bos Acem, tidak membuahkan hasil, kontak tak bisa dihubungi. Koordinator lapangan, Gusti, awalnya membantah semua temuan, namun berubah sikap setelah ditunjukkan bukti lapangan. Ia berjanji akan menegur, bahkan “mengancam akan memecat” pekerja yang tak patuh aturan. Tapi pertanyaannya: Kenapa harus menunggu kekhawatiran publik baru mau mulai bertindak?
Proyek pemerintah adalah milik rakyat. Setiap rupiah yang digunakan harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di atas kertas, tapi juga di lapangan. Jika proyek senilai Rp13 miliar saja bisa dikerjakan tanpa pengawasan dan mengabaikan keselamatan, patut dicurigai ada masalah jauh lebih besar yang sedang ditutupi.
Warga Bangka Tengah pantas tahu, uang mereka digunakan untuk membangun fasilitas, bukan untuk membiayai ketidakpatuhan dan bahaya di lokasi kerja.




