
Pengamat Pramuka dari Pangkalpinang, Rama, menilai insiden ini menunjukkan bahwa organisasi kepramukaan kehilangan arah. “Pramuka seharusnya menjadi benteng nasionalisme. Tapi kalau sampai ada bendera Merah Putih dirobek dalam kegiatan resmi, itu bukan sekadar salah tafsir, melainkan tanda lemahnya kepemimpinan dan pembinaan. Ini tamparan keras bagi gerakan Pramuka secara nasional,” kata Rama.
Ia menambahkan, publik tidak butuh sekadar klarifikasi atau permintaan maaf, melainkan reformasi total dalam sistem pendidikan Pramuka. “Kalau tidak ada evaluasi mendalam, jangan salahkan bila kepercayaan masyarakat pada Pramuka semakin pudar,” ujarnya.
Pramuka mestinya berdiri paling depan dalam menjaga nasionalisme. Namun, peristiwa di Padang justru menegaskan lemahnya pengawasan, miskinnya inovasi pendidikan, dan absennya sensitivitas terhadap simbol negara.
Skandal ini menjadi alarm keras. Pramuka harus berhenti berlindung di balik dalih teknis. Jika tak segera berbenah, sulit bagi publik untuk tetap percaya bahwa gerakan ini masih relevan sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan.
