BeritaPangkalpinang

‎Tradisi Mendirikan Telur Saat Peh Cun: Warisan Budaya dan Filosofi Keharmonisan ala Bangka Belitung

Namun, selain itu, ada satu tradisi lain yang penuh makna dan sering dilakukan pada saat puncak Peh Cun, yaitu mendirikan telur tepat saat matahari berada di titik tertinggi—biasanya sekitar pukul 12 siang. Tradisi ini dipercaya berasal dari keyakinan kuno bahwa pada saat itu, keseimbangan alam memungkinkan telur berdiri tegak tanpa penyangga.

‎Makna Simbolik dan Filosofis

‎Ritual mendirikan telur bukan sekadar hiburan atau permainan anak-anak. Ia mengandung pesan keseimbangan kosmis dan harmoni antara manusia dan alam semesta. Telur yang berdiri tegak melambangkan stabilitas hidup, ketenangan batin, dan keselarasan lingkungan—nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam filosofi Tionghoa.

‎Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Thongin Fangin Jitjong, filosofi hidup masyarakat Tionghoa Bangka Belitung yang bermakna “Rukun antar manusia, harmonis dengan lingkungan, dan seimbang dalam hidup”. Tradisi mendirikan telur menjadi refleksi nyata dari prinsip tersebut, mengajarkan generasi muda untuk hidup dalam keseimbangan: tidak hanya dalam relasi sosial, tapi juga dengan semesta.

‎Menjaga Warisan, Menghidupkan Nilai

‎Elita, Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Bangka Belitung, menyampaikan bahwa tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya daerah. “Mendirikan telur itu sederhana, tapi sarat makna. Kita ingin anak-anak muda paham bahwa budaya itu bukan hanya dilihat, tapi dimaknai. Di dalamnya ada pelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan keseimbangan hidup,” ujarnya.

‎Tradisi ini juga menjadi simbol persatuan lintas etnis di Bangka Belitung, di mana Peh Cun dirayakan bukan hanya oleh warga Tionghoa, tetapi juga disambut hangat oleh masyarakat Melayu dan suku lainnya sebagai warisan budaya bersama.

‎Budayawan Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan, turut menekankan pentingnya menjaga tradisi ini sebagai bagian dari keharmonisan sosial di daerah. “Peh Cun bagian dari tradisi yang menjadi budaya yang kokoh masyarakat etnis Tionghua di Bangka Belitung. Seiring perjalanan waktu, keharmonisan yang terjaga oleh kesadaran tinggi tentang kebhinekaan masyarakat Bangka Belitung, Peh Cun juga dinikmati oleh masyarakat Melayu. Karena ini adalah budaya, maka tradisi ini harus dijaga, terutama nilai-nilai keharmonisan antara Melayu dan Tionghua,” ujarnya.

‎Ia pun menegaskan bahwa kekayaan terbesar Bangka Belitung bukanlah sumber daya alamnya, melainkan semangat persatuan masyarakatnya. “Seringkali saya ungkapkan baik lisan maupun tulisan bahwa aset Bangka Belitung yang paling mahal bukan timah, bukan lada, bukan pula pantai yang indah, laut maupun sawit, tapi aset yang paling mahal adalah keharmonisan warganya. Makanya aset ini harus kita jaga, salah satunya adalah menjaga tradisi para leluhur yang memiliki nilai-nilai kehidupan.”

‎Dengan semangat itu, tradisi Peh Cun, termasuk ritual mendirikan telur, tak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga jembatan antar komunitas yang memperkuat identitas kolektif Bangka Belitung sebagai daerah yang damai dalam keberagaman. (yak)

Baca juga  Pemprov Babel Raih Opini Kualitas Pelayanan "Baik" dari Ombudsman
Laman sebelumnya 1 2

Related Articles