
Boleh saja menggunakan desain yang mewakili brand image bisnis Anda, tetapi pastikan desain tersebut nyaman di mata pengguna. Selain itu, Anda pun harus mengatur tata letak (layout) website dengan jelas.
4. Membuat Konten yang Menarik dan Relevan
Pengunjung website mana pun pasti menginginkan konten yang menarik, bermanfaat, dan informatif. Tidak hanya itu, konten tersebut harus relevan pula dengan target audiens dan search intent mereka. Anda bisa menerapkan strategi Search Engine Optimization (SEO) untuk mencari kata kunci yang relevan dengan konten di website.
5. Membuat Website Lebih Mudah Ditelusuri
Website yang mudah ditelusuri akan terlihat lebih menarik bagi pengunjung sehingga bisa memiliki bounce rate yang lebih rendah.
Pastikan website Anda menggunakan struktur navigasi yang jelas dan logis sehingga pengunjung tidak akan kesulitan saat menelusurinya. Sertakan juga kolom pencarian di website untuk membantu pengunjung menemukan konten atau halaman (pages) yang ingin dicari.
Pasalnya, saat website Anda tidak memiliki navigasi yang jelas, pengguna tidak bisa melakukan banyak hal di website sebelum menutupnya atau kembali ke halaman mesin pencari (SERP).
6. Menggunakan Internal Link
Internal link alias tautan internal ke halaman lain dalam satu website bisa mempertahankan pengunjung dalam waktu yang lebih lama. Anda bisa menyertakan internal link dalam konten atau halaman yang relevan dengan link tujuannya. Internal link dapat membantu pengunjung website dalam menemukan lebih banyak konten yang bisa mengurangi bounce rate.
7. Menggunakan Open in New Tab
Saat pengunjung mengklik link pada suatu halaman, jika halaman baru dibuka dalam tab baru, pengunjung akan tetap berada di tab asli. Hal ini mengurangi kemungkinan mereka meninggalkan website secara keseluruhan.
Mengapa ini dapat membantu menurunkan bounce rate? Ketika pengunjung membuka tautan dalam tab baru, mereka masih memiliki tab asli yang terbuka. Dengan demikian, mereka masih terhubung dengan website Anda dan mungkin melanjutkan menjelajah konten yang ada. Tanpa membuka tautan dalam tab baru, pengunjung mungkin akan meninggalkan website Anda sepenuhnya saat mereka berpindah ke halaman baru.
8. Gunakan Call-to-Action
Call-to-action (CTA) adalah link atau tombol yang mengajak pengunjung untuk melakukan tindakan tertentu, seperti membeli produk atau berlangganan newsletter. CTA yang jelas dan menarik dapat mendorong pengunjung untuk berinteraksi lebih lama dengan website Anda sehingga bounce rate pun berkurang.
9. Lakukan A/B Testing Setiap Halaman Website
Ada baiknya Anda melakukan A/B testing terlebih dahulu sebelum website siap dikunjungi. A/B testing menampilkan beberapa versi halaman website yang berbeda kepada pengunjung yang berbeda dan mengukur versi yang memiliki kinerja lebih baik. Lakukan A/B testing pada berbagai elemen website, seperti tata letak, judul, dan CTA sehingga Anda bisa menerapkan perubahan yang dapat mengurangi bounce rate.
Cara Melihat Bounce Rate di Google Analytics
Menariknya, Anda bisa melihat bounce rate website di Google Analytics. Tentu saja Anda perlu memiliki akun Google Analytics terlebih dahulu sebelum mengukur metriknya. Ikuti langkah-langkah di bawah ini untuk mengukur bounce rate:
- Masuk ke akun Google Analytics dan pilih website yang ingin Anda lihat bounce rate-nya.
- Pada bagian menu sebelah kiri, klik “Audience“, kemudian pilih “Overview“.
- Muncul dashboard ‘Overview’ dan Anda akan melihat berbagai metrik, termasuk bounce rate. Bounce rate ditampilkan dalam persentase dan terletak dekat bagian atas dashboard.
- Jika ingin melihat bounce rate untuk halaman atau grup halaman tertentu, gunakan menu “Site Content” di menu sebelah kiri. Kemudian, klik “All Pages” untuk melihat bounce rate untuk halaman-halaman tertentu, atau klik “Landing Pages” untuk melihat bounce rate untuk grup halaman.
- Gunakan pula fitur “Secondary Dimension” untuk melihat bounce rate pada segmentasi audiens yang berbeda. Caranya, klik menu dropdown “Secondary Dimension” di atas tabel data dan pilih dimensi, seperti “Source/Medium” untuk melihat bounce rate dari sumber traffic yang berbeda.
Beberapa fitur Google Analytics yang disebutkan di atas dapat membantu Anda dalam mengetahui bounce rate website serta menganalisis kinerja pages dan segmentasi audiens yang berbeda. Metrik ini dapat membantu Anda untuk mengidentifikasi elemen yang perlu ditingkatkan serta memperbaiki website sehingga mampu mempertahankan pengunjung dan meningkatkan pengalaman pengguna.
Sudahkah Anda memahami pentingnya bounce rate setelah membaca artikel ini? Salah satu cara terbaik untuk mengurangi bounce rate adalah dengan meningkatkan kecepatan loading website. Selain mengoptimalkan tampilan website, Anda pun bisa menggunakan layanan Load Balancer dari Cloudeka agar server website tetap stabil meskipun sedang mengalami lonjakan pengunjung.
Tidak sulit menggunakan Load Balancer karena layanan ini sangat mudah diimplementasikan dalam website bisnis Anda. Langsung hubungi kami sekarang juga untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan unggulan ini. Kurangi angka bounce rate Anda hanya menggunakan layanan Load Balancer..
Frequently Asked Question (FAQ)
Berapa Bounce Rate yang Bagus?
Berdasarkan data dari SEMRush, rata-rata bounce rate untuk sebagian besar website berada di kisaran antara 26% hingga 70%. Namun, bounce rate dapat bervariasi secara signifikan.
Industri Anda, sumber lalu lintas, dan landing page dapat memengaruhi bounce rate Anda. Semuanya tergantung pada konteksnya.
Berikut beberapa rata-rata bounce rate untuk berbagai jenis website:
- Website e-commerce dan ritel: 20% hingga 45%
- Website B2B: 25% hingga 55%
- Website untuk Lead generation: 30% hingga 55%
- Website konten non-e-commerce: 35% hingga 60%
- Landing pages: 60% hingga 90%
- Kamus, portal, dan blog: 65% hingga 90%
Namun, perlu diingat bahwa angka-angka tersebut adalah rata-rata dan setiap website memiliki konteksnya sendiri. Penting untuk membandingkan bounce rate website Anda dengan rata-rata industri yang sesuai, serta melacak perubahan dan tren dari waktu ke waktu.
Apakah Pop-Up Dapat MenurunkanBounce Rate?
Penggunaan pop-up pada situs web dapat memiliki efek yang beragam terhadap bounce rate. Pop-up dapat digunakan untuk memengaruhi perilaku pengunjung dan mengurangi bounce rate, tetapi juga dapat menjadi faktor yang menyebabkan pengunjung meninggalkan website Anda dengan cepat.
Jadi, pastikan pop-up muncul dengan konten yang relevan dan menarik bagi pengunjung, misalnya tawaran khusus, konten terkait, atau penawaran eksklusif, maka pengunjung mungkin akan terlibat dan tetap berada di website Anda.
Apa yang Perlu Diperhatikan Selain Bounce Rate?
Ada banyak hal yang jauh lebih peting Anda diperhatikan selain bounce rate. Fokus Anda sebaiknya tidak hanya pada angka bounce rate semata. Lebih baik memusatkan perhatian pada meningkatkan kualitas konten, pengalaman pengguna, dan memastikan pengunjung terlibat dengan website Anda.
Sumber : https://www.cloudeka.id/




