
BANGKA, INLENS.id – Kampong Gebong Memarong di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, kembali menjadi sorotan berkat digelarnya ritual adat tahunan yang sarat makna, yaitu Nujuh Jerami. Perayaan ini menjadi bagian dari “Festival Mapor: Perayaan Ritual Adat Nujuh Jerami” yang berlangsung selama tiga hari, sejak Rabu hingga Jumat, 9–11 April 2025.
Ratusan warga dari berbagai penjuru Bangka Belitung memadati lokasi untuk menyaksikan secara langsung prosesi adat yang kini semakin dikenal luas.
Makna dan Tradisi Nujuh Jerami
Ritual Nujuh Jerami merupakan tradisi adat masyarakat Mapor atau yang dikenal juga sebagai orang Lom. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen padi, sekaligus penghormatan terhadap alam dan benda-benda yang dianggap berjasa dalam proses bertani.
“Setelah panen, masyarakat Mapor berkumpul untuk menumbuk padi bersama. Nasi yang dimasak dari padi itu kemudian dioleskan—atau dipaletkan—ke berbagai benda seperti parang, kapak, lesung, hingga rumah, sebagai simbol penghargaan,” jelas Bukim, Ketua Lembaga Adat Mapor (LAM).




