
Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi memiliki nilai sakral. Menurut tokoh adat Abok Gedoy, warga dilarang keras memakan hasil panen sebelum ritual ini dilaksanakan. Bila larangan ini dilanggar, dipercaya bisa mendatangkan musibah, dan rumah pelanggar harus “ditaber” atau disucikan kembali.
Prosesi Sakral: Dari Naber hingga Nyembur Bulai
Sebelum padi ditumbuk, prosesi naber dilakukan, yakni memercikkan air dari batok kelapa yang dicampur dengan bahan-bahan khusus ke berbagai sudut area ritual. Selanjutnya dilakukan nyembur bulai sebagai bagian dari pembersihan spiritual. Setelah itu, barulah padi ditumbuk oleh tiga hingga empat orang berpengalaman, ditampi, lalu dimasak. Nasi yang dihasilkan pun tidak langsung disantap, melainkan dioleskan terlebih dahulu ke benda-benda simbolik tersebut.
Pelestarian Warisan Budaya
Ali Usman, pembina Kampong Gebong Memarong, menyatakan bahwa ritual ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah sejak tahun 2015. Ia juga menjelaskan bahwa sejak tahun 2019, nama Festival Mapor mulai diperkenalkan untuk memberikan semangat baru dalam pelestarian budaya.
“Harapan kami, di tahun-tahun mendatang perayaan ini bisa digelar lebih meriah dan menjangkau lebih banyak generasi muda agar mereka ikut menjaga tradisi ini tetap hidup,” ungkapnya.
Festival Mapor bukan hanya perayaan lokal, melainkan cerminan betapa kayanya warisan budaya yang dimiliki Bangka Belitung. Nujuh Jerami menjadi bukti bahwa tradisi lama tetap relevan dan bisa menjadi kekuatan dalam mempererat identitas masyarakat di tengah arus modernisasi.




