BeritaDaerahPangkalpinangPemkot Pangkalpinang

Wali Kota Prof. Udin Dorong Pembangunan Gedung Kebudayaan, Angkat Jejak Sejarah Bangka

PANGKALPINANG, INLENS.id — Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Udin, terus menunjukkan komitmennya dalam menguatkan identitas sejarah dan kebudayaan daerah. Salah satu langkah strategis yang tengah diperjuangkan adalah pembangunan Gedung Kebudayaan Pangkalpinang.

Gedung ini dirancang tidak hanya sebagai ruang pertunjukan seni, tetapi juga sebagai pusat edukasi sejarah yang mampu mendekatkan generasi muda dengan nilai-nilai perjuangan bangsa.

Komitmen tersebut disampaikan saat pertemuan dengan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Yogyakarta, Minggu (29/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Prof. Udin menekankan pentingnya menghadirkan ruang kebudayaan yang memiliki fungsi ganda, yakni sebagai wadah ekspresi seni sekaligus sarana pembelajaran sejarah bagi pelajar.

“Pangkalpinang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah bangsa. Pada masa perjuangan kemerdekaan, Pulau Bangka menjadi tempat keberadaan sejumlah tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, serta Agus Salim,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah tekanan masa penjajahan, masyarakat Bangka turut memberikan dukungan moral kepada para tokoh bangsa yang berada di wilayah tersebut.

Salah satu kisah yang masih dikenang adalah peran keluarga Musa di Pangkalpinang yang turut membantu serta memberi semangat kepada para pejuang kemerdekaan.

Menurutnya, nilai-nilai perjuangan tersebut penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan edukatif.

Baca juga  Pemerintah Hadirkan Diskon Listrik 50% untuk Pelanggan Rumah Tangga di Pangkalpinang

“Dengan adanya Gedung Kebudayaan Pangkalpinang, para pelajar dapat belajar sejarah secara langsung dari ruang yang merekam jejak perjuangan bangsa,” jelasnya.

Lebih jauh, ia berharap gedung tersebut tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga pusat pembelajaran yang mampu menumbuhkan semangat nasionalisme.

Salah satu tokoh yang menjadi bagian dari sejarah tersebut adalah Norma Musa. Ia dikenal memiliki kemampuan administrasi yang baik serta menguasai berbagai bahasa asing, seperti Inggris, Prancis, Arab, dan Jerman.

Kemampuan tersebut membuatnya berperan penting dalam membantu komunikasi dan administrasi bagi tokoh-tokoh nasional pada masa perjuangan.

Dalam perjalanan hidupnya, Norma Musa kemudian dikenal dengan gelar KRAy Nindyo Kirono setelah menikah dengan Hamengkubuwono IX. Pernikahan ini menjadi simbol pertemuan budaya antara Melayu Bangka dan Jawa Yogyakarta, yang mencerminkan semangat persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Melalui rencana pembangunan Gedung Kebudayaan Pangkalpinang ini, Prof. Udin berharap nilai sejarah dan semangat perjuangan yang lahir dari Bangka dapat terus hidup serta menjadi inspirasi bagi generasi Indonesia di masa depan.

Related Articles