Pulau Kelasa Terancam Nuklir, WALHI: Thorcon Belum Pernah Bangun PLTN

PANGKALPINANG, INLENS.id — Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kepulauan Bangka Belitung, Ahmad Subhan Hafiz, menolak keras rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Small Modular Reactor (SMR) di Pulau Kelasa, Kabupaten Bangka Tengah.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Babel, Senin (10/11/2025), Hafiz menuding klaim PT Thorcon Power Indonesia yang menyebut 73 persen masyarakat menyetujui proyek tersebut sebagai “fabrikasi” data.
“Angka 73 persen itu mustahil. Di dunia saja tidak ada negara dengan tingkat penerimaan publik setinggi itu terhadap PLTN,” tegas Hafiz di ruang Banmus DPRD Babel.
Menurut WALHI, penolakan terhadap proyek nuklir ini didasari dua alasan utama: risiko ekologis yang tak ternilai dan ketiadaan urgensi energi di Bangka Belitung.
Pulau Kelasa disebut WALHI sebagai “benteng ekologi terakhir” di pesisir timur Kepulauan Bangka Belitung. Berdasarkan ekspedisi lapangan, WALHI menemukan sedikitnya empat kawasan dengan nilai konservasi tinggi — termasuk keberadaanWALHI Tantang Pemerintah dan Thorcon: “Jangan Jadikan Babel Kelinci Percobaan Nuklir!ang menjadi penanda ekosistem laut berumur ribuan tahun.
Hafiz menyoroti pula lokasi tapak yang diincar Thorcon di kawasan Teluk Pisang, yang disebut sebagai pusat aktivitas nelayan Pulau Kelasa.
“Teluk Pisang itu tempat nelayan mencari nafkah. Tidak ada lokasi lain bagi mereka di Pulau Kelasa. Kalau proyek ini jalan, maka habislah ruang hidup nelayan,” ujarnya.
Soal klaim penerimaan publik 73 persen, Hafiz mempertanyakan metode survei yang digunakan Thorcon. Ia membandingkannya dengan data global: di Amerika Serikat, setelah 80 tahun menggunakan PLTN, tingkat penerimaan publik hanya 56 persen, sedangkan di Jepang pasca-tragedi Fukushima Daiichi merosot hingga 20 persen.
“Artinya, 73 persen itu angka fiktif. Tidak realistis untuk diterima secara global, apalagi di wilayah sensitif seperti Babel,” kritiknya.
Hafiz juga menepis alasan pembangunan PLTN atas dasar krisis energi. Ia menegaskan, Bangka Belitung sudah mencapai 100 persen elektrifikasi dan memiliki potensi energi terbarukan yang jauh lebih aman — yakni 2.810 MW dari tenaga surya dan 1.700 MW dari angin, sebagaimana tercantum dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED).
Selain itu, WALHI juga meluruskan informasi soal bahan bakar PLTN. Menurut Hafiz, bahan utama reaktor Thorcon tetap uranium, bukan thorium seperti yang kerap diklaim.
“Stop bilang teknologi PT Thorcon ini sudah terbukti. Mereka belum pernah membangun satu pun PLTN di dunia,” pungkas Hafiz.




