Ambisi PLTN di Bangka Belitung: Saat Masa Lalu Datang Menyamar sebagai Kemajuan Teknologi
Oleh: Bangdoi Ahada

PLTN bukan musuh. Tapi menempatkannya di Babel hari ini adalah keputusan yang terlalu berisiko.
Kita belum punya sistem pengawasan yang steril, belum punya tenaga ahli yang cukup, belum punya jaminan transparansi publik.
Jangankan untuk di Bangka Belitung, di duniapun belum ada yang telah menjamin bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir berbahan Thorium telah aman dan mampu mensejahterahkan masyarakat sekitar PLTN.
Lalu mengapa berani membangun disini? Apakah karena rakayat Babel yang masih sedikit? Jika terjadi trouble, paling-paling yang menjadi korban tidak banyak?
Ini yang seharusnya menjadi kebijakan para pemimpin di negeri yang disebut SERUMPUN SEBALAI ini.
Kita jangan terlena oleh rayuan dan segepok amunisi dari pra pencandu pembangunan PLTN. Mereka bisa saja karena ingin menggulirkan cuan, namun resiko yang menangggung adalah rakyat Bangka Belitung.
Buktinya sampai saat ini, tidak ada penjelasan ataupun bukti bahwa sudah ada PLTN berbasis Thorium yang telah berdiri megah dan mampu memberikan rasa aman, nyaman dan kesejahteraan.
Lalu mengapa tiba-tiba ngotot mau membangun di Babel?
Jangan jadikan kami kelinci percobaan: Jika gagal, yang rusak adalah adalah masyarakat Babel yang memang jumlahnya masih sedikit, tetapi jika berhasil maka yang menikmatinya bisa se Nusantara bahkan bisa menjadi acuan untuk negara Adidaya seperti Amerika.
Mengapa perusahaan Amerika –yang ngotot bangun di Pulau Gelasa– tidak mau ujicoba dulu di Amerika?
Nanti setelah berhasil dan aman baru diterapkan disini, dengan melatih SDM orang Babel untuk menjadi pengawal PLTN di Babel?
Janjinya Energi Bersih?
Kalau energi bersih memang tujuan utama, mengapa bukan tenaga surya, angin, atau arus laut yang dikembangkan dulu?
Bukankah itu lebih masuk akal — dan lebih aman — untuk pulau yang dikelilingi laut?
Perlu kamu-kamu para fans PLTN ketahui ya, Bangka Belitung tak butuh simbol kebanggaan nasional yang mahal.
Yang dibutuhkan justru adalah kepastian: bahwa setiap proyek besar benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada ambisi segelintir elite yang ingin meninggalkan warisan megah tetapi membuat rakyat ketakutan sepanjang masa.
Karena bila PLTN ini benar-benar dibangun tanpa kesiapan sosial dan sistemik, maka Babel bukan sedang melangkah ke masa depan — tapi sedang berjalan mundur ke masa lalu yang sudah pernah kita tolak. Dan di antara riuh tambang tua dan ombak pesisir, pertanyaan itu kembali menggema:
“Apakah kita sedang menuju kemajuan, atau sekadar mengulang kesalahan yang sama — dengan nama baru yang lebih keren?”. (b5)




