Opini

FENOMENA TURISMOFOBIA

Oleh : Ir. H. Abdullah Rasyid, ME.

Tak semua cerita tentang pariwisata di Bali membawa kabar bahagia seperti dalam film Eat, Pray and Love. Di sosial media kerap kita jumpai video-video “menjengkelkan” tentang turis asing, mulai dari pelanggaran lalu-lintas, perbuatan onar, hingga berlaku tak senonoh di situs yang disucikan warga lokal.

Yang lebih menyakitkan, banyak dari mereka beralasan “tidak tahu” atau “mengira ini tidak masalah”. Padahal Bali bukan panggung bebas; ia adalah rumah bagi jutaan jiwa yang hidup dengan adat, spiritualitas, dan rasa hormat terhadap leluhur. Ketidaktahuan bukan lagi alasan ketika informasi tersedia di setiap sudut bandara, hotel, hingga papan pengumuman desa.
]
Fakta mencatat, sudah begitu banyak turis asing telah dideportasi dari Bali karena melanggar norma sosial dan hukum. Diantaranya bahkan banyak yang bekerja secara ilegal, atau jaringan kriminal internasional.

Baca juga  Memaknai Kebangkitan Nasional di Tengah Hingar-Bingar MBG dan Kopdes Merah Putih

Perihal ini menjadi pemicu turismofobia dan akan menjadi tantangan yang akan berkembang selanjutnya. Turismofobia menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari pertumbuhan sektor pariwisata. Masyarakat merespons secara alami dampak negatif dari overtourisme akibat adanya tekanan pada lingkungan dan budaya yang mengarah pada “komodifikasi” budaya dan kerusakan lingkungan. Selain itu, ketimpangan ekonomi yang terjadi akibat “dominasi” investasi perusahaan asing semakin memicu resistensi dari masyarakat.

Namun demikian, turismofobia bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita kelola dengan baik.

Sekalipun turismofobia muncul seiring pertumbuhan pariwisata, fenomena ini bukanlah konsekuensi yang mutlak. Dengan pengelolaan yang tepat, dampak negatif dapat diminimalkan, sehingga pariwisata tetap memberikan manfaat tanpa memicu konflik.

1 2Laman berikutnya

Related Articles