Dampak Sosial Ekonomi Aktivitas Tambang Timah Rakyat di Bangka Barat

Dampak aktivitas tambang rakyat terhadap pendidikan di Bangka Barat tidak bisa diabaikan. Banyak anak usia sekolah, terutama di tingkat SMA, memilih untuk berhenti belajar demi bekerja di tambang yang dianggap lebih cepat menghasilkan uang. Kondisi ini tercermin dalam data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 15 tahun ke atas di Bangka Barat pada tahun 2023 hanya 8,87 tahun, jauh dari standar pendidikan 12 tahun yang ideal. Selain itu, Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 16–18 tahun di Bangka Barat hanya sebesar 70,42%, artinya hampir sepertiga remaja usia SMA tidak lagi bersekolah.
Fakta ini menunjukkan bahwa akses pendidikan di daerah ini masih jauh dari harapan. Sayangnya, pemerintah kerap melihat sektor pendidikan sebatas angka statistik, padahal pendidikan seharusnya dipahami sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan keadilan sosial dan memperkuat daya saing daerah.
Tak kalah serius, dampak lingkungan dari tambang timah rakyat juga sangat mengkhawatirkan. Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dalam Catatan Akhir Tahun 2022, Bangka Belitung memiliki 12.607 titik lubang bekas tambang (kolong), dan luas total lahan eks tambang mencapai 15.579,747 hektare. Di antaranya, 167.104 hektare telah berubah menjadi lahan kritis yang tidak bisa lagi dimanfaatkan secara produktif. Bahkan, kerusakan ini juga menyentuh ekosistem pesisir dan laut, dengan 240.467 hektare mangrove dan lebih dari 5.200 hektare terumbu karang rusak. Di daratan, lebih dari 400.000 hektare hutan tropis hilang akibat pembukaan lahan tambang.
Semua ini menunjukkan bahwa kerusakan akibat tambang tidak hanya berdampak ekonomi jangka pendek, tetapi juga mengancam keberlanjutan lingkungan dan penghidupan generasi berikutnya.
Di sisi lain, angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bangka Barat tercatat mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Bangka Barat naik dari 2,00% pada tahun 2022 menjadi 5,47% pada tahun 2023. Meskipun angka ini terlihat menggembirakan secara makro, namun belum mencerminkan pemerataan kesejahteraan di masyarakat. Pertumbuhan tersebut masih sangat bergantung pada sektor pertambangan timah, yang bersifat fluktuatif dan tidak selalu berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup warga, terutama mereka yang bekerja di sektor informal dan tambang rakyat. Ini menjadi tanda bahwa pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya juga inklusif dan berkelanjutan, bukan hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam.
Tambang rakyat tidaklah mudah di hentikan, penambang rakyat bukanlah musuh, mereka hanyalah orang-orang yang mencari nafkah. Namun, perlu ada pengaturan yang lebih jelas dan tegas. Pemerintah daerah harus hadir, bukan untuk melarang, tetapi untuk membina dan mengarahkan. Legalitas, pelatihan, dan pendampingan menjadi kunci agar aktivitas tambang rakyat berjalan lebih aman, tertib, dan berkelanjutan.
Selain itu, diversifikasi ekonomi perlu didorong. Bangka Barat memiliki potensi besar di sektor lain seperti perikanan, pertanian, dan pariwisata. Generasi muda harus diberi peluang dan dukungan untuk mengembangkan usaha kreatif dan ramah lingkungan. Tidak semua orang harus menjadi penambang, dan tidak semua potensi harus digali dari dalam tanah.
“Tambang timah rakyat di Bangka Barat memang menjadi berkah bagi sebagian orang. Namun jika tidak dikelola dengan bijak, tambang bisa berubah menjadi kutukan. Masa depan daerah ini tidak boleh ditentukan oleh apa yang bisa kita ambil dari perut bumi, tapi oleh apa yang bisa kita bangun bersama di atasnya“.
Sumber Penulis
Antara News. (2023, Juni 12). Dampak Penambangan Timah terhadap Lingkungan dan Sosial
di Bangka Barat. https://www.antaranews.com
Bangkapos. (2021, Oktober 10). Tambang Timah Rakyat dan Harapan Warga Bangka Barat.
https://bangka.tribunnews.com
Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (2023). Rata-rata lama sekolah
dan angka partisipasi sekolah menurut kabupaten/kota 2019–2023. BPS.Diakses dari:
https://babel.bps.go.id
Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Barat. (2023). Kabupaten Bangka Barat dalam
angka 2023. BPS Bangka Barat.Diakses dari:
https://bangkabaratkab.bps.go.id/publication/2023/02/28/59eedeba3e56505f5a1c5e57/kabupat
en-bangka-barat-dalam-angka-2023.html
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). (2022). Catatan akhir tahun: Krisis
lingkungan dan tambang rakyat di Bangka Belitung. WALHI.Diakses dari:
https://www.walhi.or.id
WowBabel. (2022, Desember). WALHI: Kerusakan lingkungan di Bangka Belitung kian parah.Diakses dari: https://www.wowbabel.com/lokal/59813739201/walhi-kerusakan-
lingkungan-di-bangka-belitung-kian-parah




