Permainan Layangan dan Tali Gelasa Disorot, Budayawan Nilai Anak Zaman Sekarang Kurang Peka Sosial

PANGKALPINANG, INLENS.id – Permainan layangan tradisional seperti Layangan Semprit atau Sempet dan pertandingan Tali Gelasa kembali mencuri perhatian dalam kegiatan budaya masyarakat Melayu di Bangka Belitung. Sorotan ini mencuat dalam gelaran Festival Pasir Padi 6 yang baru-baru ini digelar meriah di pesisir Pangkalpinang. Sabtu (31/05/2025)
Permainan yang dulunya hanya dianggap sebagai hiburan sore hari, kini berkembang menjadi bagian penting dari warisan budaya yang sarat nilai sejarah, sosial, dan pendidikan.
Layangan Semprit dikenal luas di kalangan masyarakat Melayu pesisir. Sesuai namanya, layangan ini menghasilkan suara nyaring seperti “piiiiit” saat melayang di udara. Suara tersebut berasal dari teknik khusus dalam merancang bagian layangan yang bergetar ketika terkena angin kencang.
“Bunyi semprit itu jadi daya tarik utama. Selain bentuk dan hiasan layangannya yang khas, bunyinya membawa kenangan masa kecil dan jadi ciri khas permainan Melayu kita,” ujar Atok Zaini, Tokoh Masyarakat di Pangkalpinang.
Sementara itu, pertandingan Tali Gelasa juga menjadi favorit dalam festival rakyat. Gelasa adalah benang layangan yang telah dilapisi campuran lem dan serbuk kaca halus, digunakan dalam adu layangan. Siapa yang berhasil memutus benang lawan, dialah pemenangnya. Pertandingan ini memerlukan keahlian teknis, strategi, dan kecepatan tangan.
Budayawan: Anak Zaman Sekarang Terlalu Individualistis
Budayawan Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan, turut angkat bicara terkait permainan tradisional yang mulai jarang terlihat.
“Sekarang kita sudah sangat jarang menyaksikan permainan layangan, apalagi layangan semprit, pun demikian dengan permainan tali gelasa,” ungkapnya.
Menurutnya, permainan anak-anak tempo dulu memiliki nilai pendidikan yang sangat kuat. “Hampir semua permainan anak-anak zaman dulu memiliki pendidikan yang sangat bagus, seperti kebersamaan, kekompakan, kreativitas, kerjasama, inovasi, dan yang pasti mengolah otak dan kreativitas.”
Ahmadi juga menyoroti pergeseran pola bermain anak-anak saat ini. “Permainan-permainan anak zaman sekarang lebih pada individual, sehingga melahirkan generasi-generasi yang cuek, egois, dan jauh dari kepekaan sosial. Kita berharap permainan-permainan tempo doeloe harus dibangkitkan kembali, terutama di wilayah pendidikan dasar,” tegasnya.
Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Penguatan Budaya
Kegiatan layangan tradisional ini bukan semata-mata ajang nostalgia, tapi juga menjadi wadah penting dalam pelestarian budaya Melayu Bangka Belitung. Permainan ini kerap dijadikan bagian dari agenda budaya desa, festival, maupun kegiatan sekolah.
“Layangan bukan sekadar mainan. Ia jadi media edukasi anak-anak kita. Di situ ada unsur kreativitas, gotong royong, hingga sportivitas,” jelas Rangga, salah satu penggiat layangan di Pangkalpinang.
Tak hanya itu, kegiatan layangan juga menjadi sarana memperkuat jati diri masyarakat Melayu yang dikenal dekat dengan alam dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Permainan Layangan Semprit dan Tali Gelasa memiliki banyak fungsi penting, mulai dari fungsi edukasi, sosial, ekonomi, hingga pelestarian budaya. Banyak pihak mendorong agar permainan ini dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal, serta menjadi agenda tahunan tingkat provinsi.
“Kalau bisa, layangan ini dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal. Karena ini bagian dari warisan kita yang sangat berharga,” tutup Rangga. (yak)




