Menuju Kota Digital, Pangkalpinang Integrasikan Pajak hingga Retribusi Lewat Satu Aplikasi

PANGKALPINANG, INLENS.id — Pemerintah Kota Pangkalpinang menegaskan komitmennya mempercepat digitalisasi pembayaran retribusi daerah melalui pengembangan aplikasi retribusi sampah berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Inovasi ini digarap bersama Institut Sains dan Bisnis Atma Luhur sebagai bagian dari transformasi pelayanan publik berbasis teknologi.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan pengembangan aplikasi QRIS retribusi sampah yang berlangsung di Ruang Pertemuan Bapperida Kota Pangkalpinang, Senin (9/2/2026).
Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, menegaskan bahwa peralihan menuju sistem pembayaran nontunai merupakan langkah strategis yang tak bisa ditunda di tengah percepatan teknologi dan tuntutan tata kelola pemerintahan yang transparan serta akuntabel.

“Kita sedang menyiapkan sistem pembayaran nontunai berbasis QRIS. Ke depan, satu aplikasi ini dirancang terintegrasi untuk berbagai layanan, mulai dari retribusi sampah, air, parkir, pajak PBB, hingga restoran,” ujarnya.
Menurut Dessy, aplikasi tersebut masih dalam tahap pengembangan. Pemerintah kota memastikan kesiapan sistem dilakukan secara matang, disertai sosialisasi menyeluruh sebelum diterapkan kepada masyarakat.
Ia mengakui transformasi digital kerap memunculkan pro dan kontra. Namun, adaptasi dinilai sebagai keniscayaan demi menciptakan pelayanan yang lebih efektif dan efisien, sekaligus menekan potensi kebocoran pendapatan asli daerah (PAD).
“Digitalisasi ini penting untuk meningkatkan PAD dan memperbaiki sistem pelayanan. Kekhawatiran masyarakat soal teknologi akan kita jawab dengan edukasi dan pendampingan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III ISB Atma Luhur, Yurindra, menjelaskan pengembangan aplikasi tersebut merupakan bagian dari program inovasi nasional Telkom University bertajuk Innovillage, yang mendorong mahasiswa menghadirkan solusi teknologi berdampak langsung bagi masyarakat.
Dari sekitar 980 tim peserta se-Indonesia, hanya 185 tim yang lolos pendanaan hibah. ISB Atma Luhur menjadi satu-satunya perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berhasil memperoleh dukungan pendanaan untuk merealisasikan inovasi tersebut.
Yurindra menekankan desain aplikasi QRIS retribusi sampah disusun secara inklusif. Sistem ini tidak hanya melayani warga yang telah terbiasa dengan transaksi digital, tetapi juga tetap menyediakan mekanisme manual bagi masyarakat yang belum siap beralih sepenuhnya.
“Yang sudah siap digital bisa langsung menggunakan QRIS, sementara masyarakat yang belum terbiasa tetap kami fasilitasi. Pendekatan inklusif ini menjadi pembeda agar transformasi digital tidak meninggalkan siapa pun,” jelasnya.
Secara strategis, pengembangan aplikasi ini dinilai sejalan dengan agenda Pemkot Pangkalpinang dalam penguatan pengelolaan sampah, peningkatan transparansi retribusi, serta modernisasi pelayanan publik.
Ke depan, aplikasi QRIS retribusi sampah diharapkan menjadi fondasi menuju sistem pembayaran daerah terpadu di Kota Pangkalpinang yang lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kemudahan layanan masyarakat.




