
Kami berharap juga pemerintah daerah agar segera Bentuk “TIM PERJUANGAN ROYALTI TIMAH” dengan lintas sektor, gubernur, Bupati dan Walikota, DPRD, akademisi, ahli fiskal, ahli minerba, tokoh masyarakat dan pemuda. Selama ini perjuangan Babel sering gagal karena bergerak sendiri-sendiri, Padahal pusat sangat kuat secara birokrasi. Kita berharap juga Gunakan Audit Produksi Dan Ekspor Timah karena kunci terbesar adalah data. Babel harus punya, data produksi riil, data ekspor, data smelter, data harga dunia, dan simulasi DBH. Karena selisih 1% royalti saja bisa bernilai ratusan miliar, saat ini bahkan DPRD Babel menyebut potensi DBH yang belum tersalurkan bisa mencapai Rp1,078 triliun. Ini angka yang sangat besar untuk daerah kecil seperti Babel.
Kita Mendesak Revisi Formula DBH, ini poin paling penting dan paling strategis. Saat ini daerah penghasil masih terlalu kecil mendapat bagian dibanding dampak yang ditanggung. Babel harus mendorong, revisi formula DBH Minerba, afirmasi daerah kepulauan tambang, skema “ecological fiscal transfer”. Artinya, semakin besar kerusakan ekologis nasional yang ditanggung daerah, semakin besar dana kompensasi pusat. Ini sudah mulai dipakai dalam konsep fiskal hijau di banyak negara.
Kami juga sebagai pemuda tidak Hanya Berhenti Di Royalti, ini kesalahan besar daerah penghasil SDA di Indonesia. Kalau Babel hanya mengejar DBH, uang habis, ekonomi tetap rapuh, karena royalti hanya “napas sementara”. Yang lebih penting Hilirisasi Timah Babel Harus Naik Kelas dari penambang menjadi pusat industri timah nasional.
Model Besar Kebangkitan Ekonomi Pasca Tambang, Royalti harus dipakai untuk membangun Industri Hilir Timah, misalnya solder, tin chemical, komponen elektronik, panel surya, baterai, dan smart material. Selama ini Babel menjual tanah, daerah lain menjual teknologi itu kesalahan sejarah ekonomi Babel.
Dana Abadi Pasca Tambang Babel perlu membuat Sovereign Wealth Fund Daerah Sebagian royalti jangan dihabiskan APBD rutin, tetapi disimpan, diinvestasikan, diputar untuk generasi pasca tambang. Karena suatu saat timah akan habis, tetapi daerah harus tetap hidup.
Reklamasi Besar-Besaran, royalti harus menjadi dana penyembuhan ekologis. Bekas tambang bisa diubah ke pertanian, perikanan, wisata, energi surya, kawasan industri. Kalau tidak, Babel akan menjadi daerah kaya sumber daya tetapi miskin masa depan. Babel Harus Berani Melawan Pola “Kolonialisme Sumber Daya” Ini inti masalah Indonesia sejak lama. Daerah penghasil SDA sering hanya jadi lokasi eksploitasi, tetapi pusat menjadi pusat akumulasi kekayaan. Padahal kerusakan tinggal di daerah, konflik sosial tinggal di daerah, kemiskinan tinggal di daerah. Karena itu perjuangan royalti bukan sekadar fiskal. Tetapi, perjuangan keadilan ekonomi daerah penghasil.
Royalti timah bisa menjadi titik balik kebangkitan Kepulauan Bangka Belitung jika dilakukan dengan 3 syarat, yakni Perjuangan Hukum Dan Politik Yang Agresif. Babel harus menagih hak DBH berdasarkan UU Minerba, PP 19/2025, data produksi nyata. Namu kami ingatkan Royalti Jangan Habis Untuk Belanja Rutin, mari juga pikirkan dan gunakan untuk hilirisasi, reklamasi, industri baru, dan ekonomi pasca tambang.
Pada akhirmya Babel Harus Berhenti Menjadi “Daerah Galian” dan berubah menjadi daerah industri sumber daya, karena daerah tidak akan maju hanya dengan menggali tanah, daerah maju ketika mampu mengolah kekayaannya sendiri.




