Bangka TengahBeritaDaerah

Air Sungai Menghitam, Warga “Kepung” PT PSM, Mediasi Hasilkan 7 Kesepakatan

LUBUK BESAR, INLENS.id — Pemerintah Desa (Pemdes) Perlang bergerak cepat memfasilitasi mediasi antara nelayan, petani, dan tokoh pemuda dengan manajemen PT Perlang Sawitindo Mas, Selasa (31/3/2026).

Pertemuan yang digelar di ruang rapat perusahaan itu menghasilkan tujuh poin kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara resmi.

Ketua Nelayan Desa Perlang, Swandi, menegaskan pihaknya menuntut transparansi terkait dugaan rembesan limbah sawit ke Daerah Aliran Sungai (DAS). Ia menyebut kondisi air sungai kini menghitam dan berbau hingga ke hilir.

“Kami minta kejelasan. Jika ada kesalahan teknis, sampaikan secara terbuka dan pastikan kejadian ini tidak terulang,” tegasnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan perwakilan petani, Suhaimi. Ia mengungkapkan dugaan limbah telah merembes hingga ke area perkebunan warga.

Menurutnya, perusahaan harus segera membenahi sistem pengelolaan limbah agar sesuai standar baku mutu dan izin Amdal.

“Aliran pipa ke sungai sebaiknya dihentikan sementara. Dibuka kembali hanya jika air sudah benar-benar memenuhi standar,” ujarnya.

Tak hanya soal lingkungan, aspek sosial juga menjadi sorotan. Perwakilan pemuda, Nunui, menilai kontribusi perusahaan terhadap kegiatan masyarakat masih minim.

Baca juga  Pemkab Bangka Tengah Tertib Aset, Apel Kendaraan Dinas Digelar di Hari Perdana Kerja

Ia berharap perusahaan lebih aktif mendukung kegiatan keagamaan, peringatan hari besar, hingga pemberdayaan pemuda.

Ketua BPD Perlang, Saihu, mengingatkan bahwa operasional pabrik berdasar pada kesepakatan Musyawarah Desa (Musdes). Namun, sejumlah usulan masyarakat hingga kini belum mendapat tanggapan resmi dari perusahaan.

“Jangan dibiarkan berlarut. Pabrik berdiri atas dasar Musdes, jadi perusahaan wajib merespons usulan masyarakat secara tertulis,” tegasnya.

Kepala Desa Perlang juga meminta seluruh aspirasi warga segera direalisasikan. Ia menyoroti pentingnya prioritas bagi pelaku ekonomi lokal, terutama pemilik lapak sawit dan armada angkutan milik warga.

“Jangan sampai warga lokal justru tersisih. Saat sepi mereka yang menopang, maka saat ramai harus diutamakan,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan perusahaan, Manik, menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti seluruh hasil kesepakatan.

“Poin-poin yang disepakati akan kami laporkan ke manajemen dan segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Usai pertemuan, perwakilan masyarakat memantau langsung penghentian sementara aliran pipa pembuangan limbah. Warga juga akan kembali dilibatkan setelah pembangunan kolam limbah tambahan rampung.

1 2Laman berikutnya

Related Articles