Sejumlah Cabor Protes Tak Masuk Porprov 2025, Minta Pemerintah dan KONI Babel Beri Ruang Berkeadilan

“Kami tidak menuntut bonus besar atau dana tambahan. Kami hanya minta kesempatan yang adil bagi semua atlet untuk berkompetisi. Jangan sampai semangat olahraga malah dipadamkan karena keputusan yang tidak berpihak,” ujar Mehoa.
Mehoa juga menegaskan bahwa Porprov seharusnya menjadi ajang pemersatu seluruh insan olahraga di Babel, bukan justru menimbulkan rasa kecewa dan ketidakadilan antar-cabor.
“Banyak atlet sudah berlatih bertahun-tahun, berharap bisa tampil di Porprov. Kalau tidak diberi ruang, ke mana mereka menyalurkan bakatnya? Kalau syaratnya Kerjurda, kami juga sudah melaksanakan kenapa tidak masuk” katanya menambahkan.
Para pengurus cabor berharap KONI dan Pemerintah Provinsi Babel dapat meninjau kembali keputusan tersebut, dengan mempertimbangkan semangat sportivitas dan pemerataan kesempatan bagi semua cabang olahraga yang aktif melakukan pembinaan di daerah.
Menutup pernyataannya, Mehoa mengungkapkan bahwa dirinya sengaja mengambil alih kepemimpinan FOBI agar federasi bisa bergerak cepat dan aktif berpartisipasi di ajang Porprov. Namun, jika upaya tersebut tetap tidak dihargai, ia mengaku siap mengambil langkah tegas.
“Saya sengaja ambil alih FOBI supaya bisa bergerak cepat agar kami bisa ikut Porprov. Tapi kalau seperti ini, tidak ada asas keadilan, saya lebih baik mengundurkan diri saja sebagai Ketua FOBI kalau diperlakukan tidak adil,” tegasnya.




