Dari Desa Kemuja, Ahmadi Sofyan Rawat Tradisi Maulid untuk Generasi Bangka Belitung

“Kami ingin Maulid ini menjadi ajang silaturahmi dan wujud sukacita atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini adalah ruang untuk masyarakat bertemu, berbagi, dan merayakan dengan penuh kegembiraan. Semoga budaya baik ini tetap hidup, tidak hanya di Kemuja, tapi di seluruh Bangka Belitung,” tutur Ahmadi.
Sebagai seorang budayawan, Ahmadi Sofyan memang dikenal konsisten mengangkat budaya Melayu Bangka. Rumah kebunnya sering dijadikan ruang terbuka bagi masyarakat, mulai dari kegiatan seni, diskusi budaya, hingga perayaan tradisi tahunan seperti Maulid Nabi. Ia berharap apa yang ia lakukan bisa menjadi teladan kecil bahwa budaya bukan sekadar peninggalan, tetapi sesuatu yang harus terus dihidupkan.
“Bagi saya, budaya adalah napas kehidupan. Selama kita merawatnya, kita akan selalu punya identitas, punya akar, dan punya kebanggaan. Itulah mengapa saya selalu berusaha menjadikan tradisi Maulid ini sebagai pesta kebersamaan yang penuh makna,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ustadz Zuhri selaku anggota DPD RI juga mengapresiasi inisiatif Ahmadi Sofyan.
“Saya bahagia bisa hadir di tengah-tengah masyarakat dalam perayaan ini. Terima kasih kepada tuan rumah yang dengan tulus membuka ruang bagi kita semua untuk merayakan Maulid bersama. Inilah contoh bagaimana agama, budaya, dan silaturahmi bisa berpadu indah,” katanya.
Perayaan Maulid Nabi di Desa Kemuja ini pun meninggalkan kesan mendalam: bukan hanya tentang makanan dan musik tradisi, tetapi juga tentang merajut kebersamaan, merawat budaya, dan menguatkan jati diri masyarakat Bangka Belitung.
