

Tidak hanya itu, Hasto pernah menempuh pendidikan di Prasetya Mulya Bussiness School Jakarta (1997-2000).
Awal kariernya, Hasto tidak langsung terjun di dunia politik. Setelah lulus kuliah dia bergabung dengan Manager Project Manager Departemen Marketing PT Rekayasa Industri sebagai Project Manager. Kemudian menjabat sebagai Project Director di PT Prada Nusa Perkasa.
Baru pada 2002, Hasto bergabung dengan PDIP dengan ‘sentuhan’ dari gereja. Kariernya di partai disebut-sebut berawal dari bawah. Hingga pada 2004 dia memutuskan untuk maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan daerah pemilihan Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek, Jawa Timur.
Hasto sukses dan terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009 dengan ditempatkan di Komisi VI yang membidangi Perdagangan, Perindustrian, Investasi dan Koperasi.
Saat menjabat sebagai anggota DPR RI, Hasto pernah menolak sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU), salah satunya RUU Free Trade Zone Kawasan Batam yang menurutnya ada perusahaan-perusahaan yang memiliki kepentingan tertentu.
Pada Pemilu 2009, Hasto kembali maju sebagai anggota DPR RI. Namun, kali ini jalannya tidak mulus. Dia gagal masuk ke parlemen.
Tak berhasil masuk parlemen, Hasto tetap berada di PDIP. Di sinilah kariernya sebagai politkus semakin mocer. Pada Pilpres 2014, Hasto dipercaya menjadi koordinator juru bicara tim pemenangan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.
Pada 2015, dia didapuk menjadi Sekjen menggantikan Tjahjo Kumolo yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.
Jabatan tersebut dia emban sampai 2019 dan pada tahun tersebut melalui Kongres V PDI Perjuangan terpilih lagi sampai 2024.




