Tanggapi Isu Beach Sand Race, IMI dan Panitia Tegaskan Kegiatan Sesuai Prosedur

PANGKALPINANG, INLENS.id – Menanggapi berbagai isu terkait penyelenggaraan Pangkalpinang Beach Sand Race 2025 yang digelar di Pantai Pasir Padi, pihak panitia bersama Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bangka Belitung menegaskan bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hal ini disampaikan oleh Usman selaku perwakilan panitia, Selasa (08/04/2025).
Kegiatan yang berlangsung baru-baru ini sempat menuai kritik dari sejumlah peserta dan pengunjung. Salah satu keluhan datang dari peserta terkait ID card akses yang dinilai terbatas. Namun, panitia menjelaskan bahwa pemberian ID card memang dibatasi untuk menghindari penyalahgunaan akses seperti yang pernah terjadi pada event sebelumnya.
“Dalam beberapa event sebelumnya, banyak ID card yang disalahgunakan oleh pihak yang bukan pembalap, mekanik, atau tim resmi. Maka dari itu, kami membatasi jumlah ID card untuk mencegah hal serupa,” ujar Usman.
Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan adanya parkir liar yang memungut biaya tidak resmi. Usman menegaskan bahwa hal tersebut bukan bagian dari kebijakan panitia, melainkan dilakukan oleh oknum luar panitia.
“Ini sudah di luar kuasa kami. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, tapi sayangnya kejadian ini diluar dari ekspektasi kami selaku panitia. Oknum-oknum ini memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadi,” tambah Usman.
Salah satu insiden yang mencoreng citra panitia adalah ketika pengunjung dan tim peserta diminta membayar biaya parkir hingga Rp20.000 oleh pihak tak resmi. Hal ini menimbulkan kesalahpahaman bahwa pungutan tersebut merupakan bagian dari biaya yang ditetapkan panitia.
Adhy, salah satu panitia lainnya, menjelaskan bahwa biaya resmi hanya berlaku bagi pengunjung dan tim yang tidak memiliki ID card, yakni sebesar Rp30.000 pada hari Sabtu dan Rp50.000 pada hari Minggu. Selain itu, dikenakan retribusi masuk kawasan pantai sebesar Rp2.000 untuk pejalan kaki dan Rp4.000 untuk kendaraan.
“Di luar biaya tersebut, segala bentuk pungutan bukan bagian dari kebijakan panitia. Itu murni pungli oleh segelintir oknum,” jelas Adhy.
Terkait hadiah perlombaan, beberapa peserta juga menyayangkan bentuk trofi yang hanya terbuat dari akrilik. Mereka menilai bentuk trofi tidak sebanding dengan biaya pendaftaran. Menanggapi hal tersebut, Adhy menyebut trofi akrilik merupakan inovasi baru dan justru lebih baik dibanding trofi biasa, sekedar informasi trophy akrilik yang disiapkan panitia merupakan hasil tangan dari daerah Bangka Belitung sendiri dan ini menjadi dukungan dari IMI untuk produk lokal Bangka Belitung.
“Ini adalah bentuk inovasi. Justru harga pembuatan trofi akrilik ini lebih tinggi dari pada trofi konvensional, tentu ini menjadi dukungan kami ke produk lokal karena kalau kita siapa lagi yang dukung Produk lokal”, tambahnya.
Keluhan lainnya datang dari beberapa tim yang merasa ada ketidaksesuaian dalam kategori perlombaan. Ketua pelaksana menegaskan bahwa IMI dan panitia hanya menyiapkan 16 kategori resmi. Namun, karena banyaknya permintaan, beberapa kelas tambahan seperti Lenka U8, U10, dan kelas Adventure dibuka sebagai hiburan.
“Kategori tambahan itu di luar kepanitiaan IMI. Tim koordinasi untuk kelas tambahan memiliki panitia tersendiri,” tutup Usman




