Daun Simpur Kembali Bersemi! Bang Adi Hidupkan Lagi Lempah Kuning Legendaris di Pangkalpinang

PANGKALPINANG, INLENS.id — Aroma lempah kuning khas Bangka kembali mendapat panggung baru di Kota Pangkalpinang. Pengelola kuliner Bangka Belitung yang dikenal dengan sapaan Bang Adi menghadirkan Lempah Kuning Daun Simpur, rumah makan terbaru yang mengusung cita rasa tradisional dengan kemasan yang lebih modern.
Berada di Jalan A. Yani, Pangkalpinang, rumah makan ini dijadwalkan menggelar grand opening pada 10 Oktober 2026. Sebelum dibuka secara resmi, Bang Adi mengundang insan pers dan jurnalis Pangkalpinang untuk menikmati sajian sekaligus mengenalkan konsep baru rumah makan tersebut, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan santap bersama itu menjadi bagian dari rangkaian menuju soft opening pada 1–7 Oktober 2026.
Momen tersebut semakin istimewa dengan kehadiran Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin atau Prof. Udin, bersama Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang.
Kembali ke Akar Bernama Daun Simpur
Bagi Bang Adi, nama Daun Simpur bukan sekadar identitas baru. Nama tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan awal bisnis kuliner yang telah dirintisnya hampir sembilan tahun.
Sebelumnya, Bang Adi dikenal melalui merek Pohako Ninek yang mengusung racikan lempah kuning khas Bangka.
Kini, ia memilih menghidupkan kembali nama Daun Simpur sebagai identitas utama rumah makan terbarunya.
“Sebelum Pohako Ninek dulu, awalnya memang Daun Simpur. Namun karena masukan kawan-kawan saat itu yang menganggap nama lama unik, akhirnya dipakai. Sekarang, nama Daun Simpur ini kami hadirkan kembali sebagai ‘gong’ utama,” ujar Bang Adi, Minggu (27/9/2026).
Pilihan nama tersebut memiliki alasan tersendiri. Daun simpur selama ini dikenal masyarakat Bangka sebagai salah satu bahan tradisional yang digunakan untuk membungkus makanan.
Selain memberikan aroma khas pada makanan, seperti ikan bakar dan ayam goreng, Bang Adi melihat daun simpur memiliki filosofi tentang ketahanan.
“Daun simpur ini bukan sekadar daun, tapi sebuah kisah. Dia kuat, tahan lama, dan bisa hidup di mana saja,” katanya.
Filosofi itu kemudian dibawa menjadi semangat dalam membangun rumah makan baru yang tetap berpijak pada identitas kuliner lokal.




