ArtikelOpini

98 Tahun Sumpah Pemuda: Saatnya Pemuda Bangka Belitung Berhenti Menjadi Penonton

Oleh: Supri (Ketua JMSI Kep. Bangka Belitung)

Dengan cara itu, partisipasi bukan sekadar formalitas. Ia menjadi bagian dari proses pembangunan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Memberikan ruang kepada pemuda bukanlah kemurahan hati penguasa. Itu merupakan bagian dari upaya membangun pemerintahan yang terbuka, responsif, dan mampu menyiapkan masa depan daerah.

Pemuda Juga Harus Berani Mengambil Tanggung Jawab

Namun, kritik terhadap pemerintah tidak boleh membuat pemuda terbebas dari kewajiban untuk mengevaluasi dirinya sendiri.

Kita juga perlu bertanya: Apakah pemuda telah menggunakan kesempatan yang tersedia untuk mengembangkan kapasitas dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya?

Apakah kita cukup berani menawarkan solusi, atau justru lebih nyaman berhenti pada keluhan? Apakah kita bersedia bekerja bersama orang lain yang berbeda pandangan? Apakah organisasi dan komunitas kepemudaan telah menjadi ruang untuk melahirkan gagasan dan tindakan, atau hanya aktif ketika ada kegiatan seremonial?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, pertanyaan tersebut mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan dua hal sekaligus: ruang yang terbuka dan kesiapan untuk mengisinya.

Pemuda harus berani menyampaikan kritik, tetapi juga bersedia menguji gagasannya dengan data. Harus berani menuntut transparansi, tetapi juga menjaga integritas. Harus berani mengajukan perubahan, tetapi juga mau bekerja dan berkolaborasi untuk mewujudkannya.

Tidak semua perubahan harus dimulai dari jabatan atau panggung besar. Ada yang bisa dimulai dari komunitas lingkungan, pengembangan usaha lokal, kegiatan literasi, pendampingan masyarakat, inovasi teknologi, penguatan organisasi, hingga upaya sederhana menyelesaikan persoalan di lingkungan sendiri.

Pemuda tidak harus menunggu menjadi pejabat untuk memberikan manfaat. Namun, mereka juga tidak boleh terus-menerus dibiarkan berada di luar proses pengambilan keputusan hanya karena dianggap belum berpengalaman.

Kesempatan dan tanggung jawab harus tumbuh bersama. Pemerintah perlu membuka ruang yang adil. Pemuda perlu mempersiapkan diri untuk mengisi ruang tersebut dengan kapasitas, gagasan, dan tindakan nyata.

Sumpah Pemuda Harus Menjadi Gerakan, Bukan Seremoni

Sembilan puluh delapan tahun lalu, para pemuda Indonesia mampu mengesampingkan berbagai perbedaan demi membangun persatuan. Mereka memahami bahwa masa depan bersama membutuhkan keberanian untuk bergerak melampaui kepentingan kelompok masing-masing.

Hari ini, tantangan kita memang berbeda. Namun, kebutuhan untuk bersatu dan bekerja bersama tetap relevan. Kita menghadapi persoalan kesempatan kerja, ketimpangan akses pendidikan, perubahan teknologi, persaingan ekonomi, krisis lingkungan, serta tantangan dalam menjaga kualitas demokrasi.

Bangka Belitung membutuhkan pemuda yang mampu melihat persoalan daerah secara jernih dan berani mengambil bagian dalam penyelesaiannya. Daerah ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menjadi penonton ketika pembangunan berlangsung, tetapi turut mengawasi, memberikan gagasan, menciptakan inovasi, dan memastikan bahwa pembangunan membawa manfaat bagi masyarakat.

Sumpah Pemuda tidak seharusnya hanya hidup dalam spanduk, pidato, dan upacara setiap 28 Oktober. Semangatnya harus terlihat dalam cara kita memperlakukan generasi muda, membuka kesempatan bagi mereka, dan membangun kerja sama lintas generasi.

Baca juga  KNPI Babel di Persimpangan Jalan: 2025 adalah Perenungan, 2026 Saatnya Eksekusi!

Pemerintah perlu membuktikan komitmennya melalui kebijakan yang dapat diukur. Program kepemudaan harus dinilai berdasarkan manfaatnya, bukan semata-mata jumlah kegiatan yang terlaksana. Pelibatan pemuda perlu dilihat dari kualitas partisipasi dan tindak lanjut aspirasi, bukan hanya jumlah peserta yang hadir. Di sisi lain, pemuda harus terus membangun kapasitas, memperkuat kolaborasi, dan menunjukkan bahwa kritik dapat berjalan bersama solusi.

Kita tidak perlu menunggu semua persoalan selesai untuk mulai bergerak. Kita juga tidak perlu menunggu semua kesempatan terbuka untuk mulai berkarya. Namun, kita harus memastikan bahwa pintu kesempatan tidak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki akses, jaringan, atau kedekatan tertentu.

Kesempatan yang adil merupakan bagian penting dari masa depan yang ingin kita bangun bersama.

Saatnya Pemuda Bangka Belitung Mengambil Peran

Hai, pemuda Bangka Belitung!

Jangan biarkan daerah ini berjalan tanpa suara kalian. Jangan biarkan masa depan kalian dibicarakan tanpa keterlibatan kalian. Jangan pula menunggu orang lain menyelesaikan persoalan yang sebenarnya dapat mulai kalian tangani bersama.

Bangun kapasitas. Perkuat solidaritas. Sampaikan kritik dengan argumentasi. Tawarkan solusi dengan keberanian. Jaga etika tanpa kehilangan ketegasan.

Kepada pemerintah, jangan hanya menyebut pemuda sebagai penerus bangsa. Buktikan bahwa mereka merupakan mitra pembangunan hari ini. Berikan ruang untuk berpartisipasi, akses untuk berkembang, dan kesempatan yang adil untuk memimpin serta berkarya.

Kepada pemuda, jangan hanya menuntut ruang. Persiapkan diri untuk mengisinya. Jangan hanya ingin didengar. Bangun gagasan yang layak dipertimbangkan. Jangan hanya ingin dipercaya. Tunjukkan tanggung jawab melalui tindakan nyata.

Sebab masa depan Bangka Belitung bukan hanya sesuatu yang kelak diwariskan kepada generasi muda. Masa depan itu sedang dibentuk hari ini, melalui kebijakan yang dibuat, kesempatan yang dibuka, dan keberanian masyarakat untuk ikut menentukan arah pembangunan.

Sembilan puluh delapan tahun Sumpah Pemuda telah berlalu.

Dua tahun lagi, kita akan memperingati satu abad ikrar bersejarah tersebut. Momentum itu seharusnya tidak membuat kita sekadar sibuk menghitung usia sebuah peristiwa, tetapi mendorong kita mengevaluasi sejauh mana semangatnya benar-benar hidup dalam kehidupan berbangsa dan berdaerah.

Jangan sampai ketika 100 tahun Sumpah Pemuda diperingati, kita masih mengajukan pertanyaan yang sama: di mana posisi pemuda?

Bangka Belitung tidak cukup hanya memiliki pemuda sebagai penerus.

Bangka Belitung membutuhkan pemuda yang diberi ruang, berani mengambil tanggung jawab, dan terlibat dalam menentukan masa depan daerahnya sendiri. Hari ini, bukan nanti.

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Tinggalkan Balasan