
OPINI, INLENS.id – Saudara-saudaraku, anak muda Indonesia!
Hari ini kita memperingati Sumpah Pemuda. Tetapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar memahami makna Sumpah Pemuda, atau kita hanya sibuk menggelar upacara, memakai pakaian kebangsaan, berfoto, lalu pulang tanpa membawa perubahan apa-apa? Jangan sampai kita begitu rajin memperingati sejarah, tetapi begitu malas menciptakan sejarah!
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia berani mengesampingkan perbedaan demi satu cita-cita: Indonesia yang bersatu. Mereka tidak menunggu Indonesia merdeka untuk mulai berjuang. Mereka tidak menunggu jabatan, tidak menunggu fasilitas, dan tidak menunggu kekuasaan memberikan ruang kepada mereka. Mereka bergerak karena sadar bahwa masa depan bangsa tidak boleh terus-menerus ditentukan oleh orang lain. Lalu, bagaimana dengan anak muda hari ini? Kita hidup di zaman ketika informasi ada di genggaman, pendidikan semakin terbuka, teknologi semakin canggih, tetapi keberanian sebagian anak muda justru terasa semakin mahal.
Kita berani berdebat di media sosial, tetapi takut berbicara ketika melihat ketidakadilan. Kita lantang mengkritik sesama anak muda, tetapi mendadak diam ketika berhadapan dengan kekuasaan. Kita menginginkan perubahan, tetapi tidak semuanya bersedia menjadi bagian dari perjuangan. Kalau anak muda hanya pandai mengeluh, siapa yang akan bekerja? Kalau anak muda hanya pandai mencaci, siapa yang akan membangun negeri? Kalau anak muda takut bersuara, siapa yang akan mengingatkan kekuasaan ketika menyimpang?
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini tidak kekurangan orang yang pandai berpidato. Yang kita butuhkan adalah generasi muda yang berani berpikir, berani bersikap, berani bekerja, dan berani mempertanggungjawabkan perjuangannya. JANGAN JADI GENERASI PENONTON DI TENGAH CARUT-MARUT BANGSA! Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai persoalan bangsa.
Persoalan kepemimpinan, ketegangan politik, ketimpangan ekonomi, kesempatan kerja yang belum merata, serta keresahan masyarakat terhadap masa depan adalah persoalan yang harus dijawab dengan kesungguhan. Ketika elite sibuk dengan kepentingannya masing-masing, rakyat membutuhkan pemimpin yang memikirkan nasib mereka. Ketika politik berubah menjadi arena perebutan pengaruh, rakyat membutuhkan politik yang menghadirkan solusi. Ketika masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, anak muda membutuhkan kesempatan untuk bekerja, berusaha, berinovasi, dan hidup dengan bermartabat. Kita tidak boleh menganggap semua persoalan itu sebagai urusan orang tua atau urusan pemerintah semata.
Anak muda bukan sekadar pewaris masa depan. Anak muda adalah pemilik tanggung jawab hari ini! Jangan menunggu menjadi pejabat untuk berbuat baik. Jangan menunggu menjadi pengusaha besar untuk membuka lapangan kerja. Jangan menunggu menjadi orang kaya untuk membantu masyarakat. Dan jangan menunggu bangsa ini semakin rusak baru kita menyadari bahwa kita seharusnya sudah bergerak sejak lama. Kita harus mengubah cara berpikir. Dari generasi pencari peluang menjadi generasi pencipta peluang. Dari generasi pencari pekerjaan menjadi generasi yang mampu menciptakan pekerjaan. Dari generasi yang hanya menuntut pemimpin menjadi generasi yang berani mengawasi, mengoreksi, dan menawarkan jalan keluar. Dari generasi yang mudah dipecah belah menjadi generasi yang kokoh karena memiliki cita-cita bersama.
BANGKA BELITUNG: JANGAN BIARKAN DAERAH INI KEHILANGAN MASA DEPANNYA! Saudara-saudaraku, anak muda Bangka Belitung. Kita harus berani berbicara tentang rumah kita sendiri. Bangka Belitung bukan daerah yang miskin potensi. Kita memiliki sumber daya alam, laut, pertanian, perkebunan, pariwisata, dan generasi muda yang memiliki kemampuan untuk berkembang. Namun, kita harus jujur bertanya: apakah seluruh potensi itu sudah benar-benar menjadi kesejahteraan masyarakat? Kita tidak boleh terus-menerus membanggakan kekayaan alam jika masyarakat masih menghadapi kesulitan ekonomi.
Kita tidak boleh hanya membicarakan besarnya potensi daerah jika lapangan kerja yang layak masih menjadi persoalan. Kita tidak boleh membiarkan masa depan ekonomi Bangka Belitung terus dibayangi ketergantungan pada timah, sementara kerusakan lingkungan, ketidakpastian usaha, dan kebutuhan diversifikasi ekonomi menuntut jawaban yang serius. Jangan sampai timah kita keruk, alam kita rusak, tetapi kesejahteraan rakyat tidak ikut tumbuh! Bangka Belitung membutuhkan keberanian untuk membangun ekonomi baru. Kita membutuhkan pertanian dan perkebunan yang produktif, perikanan yang kuat, pariwisata yang berkelanjutan, industri pengolahan, UMKM yang berkembang, serta kewirausahaan anak muda yang mendapatkan dukungan nyata.
Kita tidak boleh membiarkan anak muda hanya menjadi penonton ketika kekayaan daerah diperebutkan, sementara mereka sendiri kesulitan menemukan masa depan di tanah kelahirannya. Anak muda Bangka Belitung harus mengambil peran. Bangun usaha. Kembangkan inovasi. Ciptakan lapangan kerja. Kawal kebijakan publik. Berani mengkritik jika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat, tetapi juga berani memberikan gagasan dan solusi.
Kita tidak sedang mencari musuh. Kita sedang memperjuangkan masa depan daerah.
KEPALA DAERAH HARUS HARMONIS, RAKYAT JANGAN MENJADI KORBAN! Kita juga harus berani mengingatkan bahwa kepemimpinan daerah bukan panggung untuk mempertontonkan ego dan persaingan. Masyarakat memilih pemimpin bukan untuk menyaksikan siapa yang paling kuat, siapa yang paling berkuasa, atau siapa yang paling banyak mendapatkan panggung. Masyarakat memilih pemimpin agar persoalan mereka diselesaikan. Jika hubungan antarpemimpin tidak berjalan harmonis, jangan sampai pelayanan publik terganggu. Jika komunikasi politik tidak berjalan baik, jangan sampai pembangunan menjadi korban. Jika ada perbedaan pandangan, jangan sampai kepentingan rakyat dikalahkan oleh kepentingan pribadi maupun kelompok.
Rakyat tidak memilih pemimpin untuk menyaksikan pertengkaran. Rakyat memilih pemimpin untuk mendapatkan perubahan! Kepala daerah harus memahami bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak untuk mempertontonkan kekuasaan. Pemimpin harus mampu duduk bersama, menyelesaikan perbedaan, dan memastikan bahwa setiap keputusan benar-benar ditujukan bagi kepentingan masyarakat. Kita tidak boleh menilai kepemimpinan hanya dari pidato, pencitraan, atau banyaknya kegiatan seremonial. Kita harus melihat hasilnya: apakah ekonomi masyarakat membaik, apakah pengangguran berkurang, apakah pelayanan publik semakin baik, dan apakah generasi muda memperoleh kesempatan yang lebih luas? Inilah saatnya kepemudaan mengambil sikap.
KNPI dan seluruh organisasi kepemudaan tidak boleh kehilangan keberanian untuk menjalankan fungsi kontrol sosial. Jangan hanya hadir ketika diundang ke acara seremonial. Jangan hanya bersemangat ketika mendapatkan fasilitas. Jangan hanya lantang ketika kepentingan kelompok sendiri terganggu. Kalau organisasi kepemudaan hanya sibuk mengurus panggung, siapa yang akan mengurus masa depan pemuda?
KNPI harus menjadi ruang konsolidasi gagasan, tempat lahirnya pemimpin masa depan, sekaligus mitra kritis pemerintah dalam mengawal pembangunan. Kritik harus disampaikan dengan data. Sikap harus didasarkan pada kepentingan publik. Perjuangan harus disertai solusi. Kita tidak harus selalu setuju dengan pemerintah. Tetapi kita juga tidak boleh menolak segala sesuatu hanya demi terlihat kritis. Kita harus berdiri di atas kepentingan rakyat.
ANAK MUDA, SADARLAH! KALIAN SEDANG DIPERTARUHKAN! Saudara-saudaraku! Jangan pernah menganggap persoalan ekonomi sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan anak muda. Ketika lapangan kerja terbatas, anak muda ikut merasakan dampaknya. Ketika biaya hidup meningkat, anak muda ikut menanggung bebannya. Ketika pendidikan tidak diikuti kesempatan yang memadai, anak muda berhadapan dengan ketidakpastian masa depan. Ketika ekonomi daerah melemah, impian anak muda untuk mandiri dan membangun keluarga juga ikut terancam. Karena itu, kita tidak boleh hanya menjadi generasi yang pandai meminta pekerjaan. Kita harus membangun kemampuan untuk menciptakan pekerjaan.
Kita tidak boleh hanya menunggu pemerintah membuka peluang. Kita harus berani membangun usaha, koperasi, komunitas produktif, industri kreatif, pertanian modern, dan berbagai bentuk ekonomi yang bisa memperkuat masyarakat. Namun, jangan pula membebankan seluruh persoalan kepada anak muda. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab menyediakan pendidikan yang bermutu, iklim usaha yang sehat, akses pembiayaan yang adil, serta kebijakan yang membuka kesempatan bagi generasi muda. Anak muda harus bekerja keras, tetapi pemerintah juga wajib menciptakan lingkungan yang memungkinkan kerja keras itu menghasilkan masa depan yang layak.
Kita membutuhkan hubungan yang tegas antara tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab negara. Anak muda jangan manja, tetapi jangan pula dibiarkan berjuang sendirian! Kita harus menuntut kesempatan yang adil, bukan meminta perlakuan istimewa. Kita harus memperjuangkan akses, bukan sekadar mengejar bantuan. Kita harus membangun kemandirian, bukan memelihara ketergantungan. Dan kita harus memastikan bahwa pembangunan daerah tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi memberikan ruang bagi seluruh generasi muda untuk tumbuh.




