BangkaBeritaDaerahPangkalpinang

Sekolah Parlemen DPM KM UBB Cetak Legislator Muda, Dorong Mahasiswa Kritis Kawal Kebijakan Publik

BANGKA, INLENS.id – Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Bangka Belitung (DPM KM UBB) menggelar Sekolah Parlemen sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami proses legislasi sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam mengawal kebijakan publik yang berdampak bagi masyarakat.

Kegiatan bertema “Peran Legislator Muda dalam Mengawal Kebijakan Publik” ini berlangsung selama dua hari, 12–13 September 2026, dan diikuti mahasiswa yang ingin memperdalam wawasan mengenai fungsi parlemen, partisipasi publik, serta pentingnya sikap kritis dalam menyikapi berbagai persoalan kebijakan.

Melalui kegiatan tersebut, DPM KM UBB ingin membangun kesadaran bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai agen perubahan di lingkungan kampus, tetapi juga memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat untuk ikut mengawal arah pembangunan dan kebijakan publik.

Mahasiswa Diajak Kritis dengan Data

Ketua Umum DPM KM UBB mengatakan antusiasme peserta terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Diskusi yang aktif, keberanian menyampaikan pendapat, hingga respons terhadap materi menjadi indikator tingginya minat mahasiswa memahami dunia legislatif.

“Secara umum, kami melihat antusiasme peserta cukup baik. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, maupun merespons materi yang diberikan,” ujarnya.

Menurutnya, Sekolah Parlemen tidak hanya membahas mekanisme parlemen mahasiswa, tetapi juga memperluas cara pandang peserta terhadap berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.

Baca juga  Konsisten! PT Timah Terus Berikan Kontribusi Nyata bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

“Mahasiswa tidak hanya memiliki ruang untuk mengawal persoalan di lingkungan kampus. Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa juga memiliki peran untuk memahami dan memberikan perhatian terhadap berbagai isu publik yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat,” katanya.

Ia menekankan bahwa sikap kritis harus dibangun melalui pemahaman yang utuh, bukan sekadar reaksi terhadap suatu kebijakan.

“Kritis bukan berarti selalu menolak atau menyalahkan. Kritis berarti berani bertanya, mencari informasi, memahami persoalan, melihat dampaknya, kemudian menyampaikan argumentasi dan solusi berdasarkan data,” tegasnya.

Bangun Jejaring dan Ruang Kolaborasi

DPM KM UBB berharap para peserta dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke lingkungan masing-masing dan menjadi mahasiswa yang lebih peka terhadap persoalan di sekitarnya.

Target kegiatan ini tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi juga mendorong lahirnya keberanian untuk berdiskusi, melakukan kajian, menyampaikan aspirasi, hingga terlibat dalam berbagai kontribusi positif bagi masyarakat.

Ke depan, DPM KM UBB juga membuka ruang kolaborasi bagi peserta yang ingin berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, sesuai minat, kapasitas, dan mekanisme organisasi.

“Sekolah Parlemen bukan semata-mata menjadi proses rekrutmen, tetapi lebih kepada upaya membangun jejaring dan ruang kolaborasi. Harapannya, komunikasi dan diskusi yang sudah dibangun selama kegiatan dapat terus berlanjut,” ungkapnya.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan