
“Ke depan, kami berharap ibu-ibu PKK bisa ikut merawat dan mengembangkan taman ini. Misalnya dengan membuat taman TOGA sehingga kawasan ini tidak hanya menjadi taman biasa, tetapi juga memiliki manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Gegha menilai penataan kawasan Tugu Mihrab memberikan manfaat lebih besar dibandingkan jika fasilitas tersebut hanya berdiri sebagai sebuah tugu. Dengan adanya taman dan ruang terbuka di sekitarnya, kawasan tersebut dapat menjadi tempat yang lebih menarik untuk dikunjungi masyarakat.
“Kami sangat terbantu karena kalau hanya tugu, pemanfaatannya tentu tidak terlalu produktif. Dengan adanya taman, ke depan kawasan ini bisa menjadi tempat wisata atau ruang berkumpul masyarakat,” katanya.
Bagi Gegha, keberadaan taman juga menjadi cara untuk membangun rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas yang ada di lingkungan mereka. Menurutnya, ketika masyarakat ikut terlibat dalam menjaga dan merawat fasilitas desa, keberlanjutan pembangunan akan lebih mudah diwujudkan.
“Kalau ada taman, masyarakat bisa ikut menjaga dan merasa memiliki. Kalau semua merasa ikut menjaga, tentu akan ada rasa tanggung jawab. Masyarakat juga bisa saling memantau,” ujarnya.
Ia mengapresiasi dukungan PT TIMAH terhadap pembangunan dan pengembangan sarana prasarana di Desa Cupat. Menurutnya, dukungan perusahaan dapat membantu pemerintah desa mengoptimalkan fasilitas yang memiliki nilai sejarah maupun manfaat bagi masyarakat.
Selain Tugu Mihrab, Kantor Desa Cupat juga memiliki sejarah tersendiri. Bangunan yang saat ini digunakan sebagai kantor desa sebelumnya merupakan rumah sakit yang pernah dimiliki PT TIMAH.
“Kantor desa ini dulunya merupakan rumah sakit milik PT TIMAH. Sekarang bangunan tersebut kami optimalkan menjadi kantor desa dan fasilitas pelayanan bagi masyarakat,” kata Gegha.
Ia berharap sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan perusahaan dapat terus berjalan dalam mengembangkan sarana dan prasarana desa.
Dengan penataan Tugu Mihrab dan kawasan sekitarnya, Desa Cupat tidak hanya berupaya mempercantik wajah desa, tetapi juga mengembangkan fasilitas yang memiliki fungsi sosial, keselamatan lingkungan, ruang publik, sekaligus potensi wisata. (*)




