
“Administrasi tidak boleh diabaikan karena menjadi bukti bahwa kegiatan pertambangan dijalankan dengan baik dan benar. Dengan Bimtek seperti ini kami bisa mengetahui apa yang sebelumnya belum kami pahami, kemudian memperbaikinya secara bertahap. Harapannya seluruh mitra usaha dapat semakin tertib dalam memenuhi kewajiban administrasi sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
Sementara itu, Direktur Operasi PT TIMAH (Persero) Tbk, Handy Geniardi, mengatakan penguatan tata kelola perusahaan tidak dapat dipisahkan dari kepatuhan seluruh mitra usaha terhadap standar dan regulasi yang berlaku.
Ia menjelaskan, ada lima fokus utama dibahas, yakni peningkatan kepatuhan terhadap regulasi dan kaidah teknik pertambangan yang baik, penguatan kolaborasi kemitraan yang produktif, pemahaman kewajiban perusahaan jasa pertambangan, implementasi standarisasi dan evaluasi teknis di lapangan, serta peningkatan kompetensi peserta sebagai agen perubahan.
“Kelima aspek tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun tata kelola pertambangan yang lebih baik, sehingga setiap kegiatan operasional dapat berjalan sesuai ketentuan, aman, dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun para mitra usaha,” ujar Handy.
Dalam kesempatan ini, Handy juga menegaskan produktivitas perusahaan harus berjalan seiring dengan penerapan standar keselamatan kerja, kepatuhan hukum, dan perlindungan lingkungan.
“Mari kita jadikan PT TIMAH sebagai perusahaan tambang timah kelas dunia yang tidak hanya unggul dari sisi bisnis, tetapi juga memiliki tata kelola yang baik, menjunjung tinggi keselamatan kerja, serta peduli terhadap kelestarian lingkungan. Kolaborasi yang efektif adalah kunci, regulasi menjadi pedoman, dan komitmen menjadi landasan dalam setiap aktivitas pertambangan,” katanya. (*)




