
Kondisi ini menjadikan emas lebih ideal sebagai instrumen investasi jangka panjang dibandingkan sarana mencari keuntungan dalam waktu singkat.
Berdasarkan simulasi menggunakan harga buyback saat ini, investor yang membeli emas pada 30 Mei 2026 saat harga berada di level Rp2.799.000 per gram masih berpotensi mengalami kerugian sekitar 9,57 persen. Pembelian pada 6 Mei 2026 di harga Rp2.823.000 per gram berpotensi rugi sekitar 10,34 persen, sedangkan pembelian pada 6 Maret 2026 di harga Rp3.024.000 per gram berpotensi mengalami kerugian sekitar 16,30 persen.
Sebaliknya, investor yang membeli emas pada periode lebih awal masih menikmati keuntungan yang cukup besar. Pembelian pada 6 Desember 2025 di harga Rp2.404.000 per gram berpotensi menghasilkan keuntungan sekitar 5,28 persen. Sementara pembelian pada 6 September 2025 di harga Rp2.060.000 per gram berpotensi untung 22,86 persen.
Keuntungan yang lebih tinggi juga dinikmati investor yang membeli emas pada 6 Juni 2025 di harga Rp1.929.000 per gram dengan potensi keuntungan sekitar 31,21 persen. Sedangkan pembelian pada 6 Maret 2025 di level Rp1.706.000 per gram berpotensi untung 48,36 persen.
Bahkan, investor yang membeli emas pada 6 Desember 2024 di harga Rp1.514.000 per gram masih berpotensi mencatat keuntungan sekitar 67,17 persen. Sementara pembelian pada 6 September 2024 di level Rp1.414.000 per gram berpotensi menghasilkan keuntungan hingga sekitar 79 persen berdasarkan harga buyback saat ini.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga emas mengalami fluktuasi dalam jangka pendek, instrumen logam mulia masih menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik bagi investor yang berorientasi jangka panjang.
