PANGKALPINANG,INLENS.id – Gelombang solidaritas dan sikap tegas terus menguat menyusul dugaan kasus kekerasan terhadap mahasiswa ISBA Yogyakarta, D Kali ini, aliansi mahasiswa dan alumni ISBA dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Palembang, Bandung, dan Jakarta secara serentak menyatakan sikap bersama atas insiden yang dinilai mencederai rasa keadilan dan kemanusiaan. Sabtu (20/12/2025) Pernyataan tersebut disampaikan oleh Moris, selaku perwakilan ARMABA dan Alumni ISBA, yang menegaskan bahwa kasus ini tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menjadi perhatian serius keluarga besar ISBA secara nasional. “Aliansi ISBA di Yogyakarta, Palembang, Bandung, dan Jakarta sepakat menyatakan sikap tegas. Kami menolak segala bentuk kekerasan dan mendesak agar kasus ini diproses secara hukum tanpa intervensi apa pun,” tegas Moris. Dalam perkembangan terbaru, orang tua korban D secara terbuka menyampaikan sikap menolak segala bentuk upaya damai dalam kasus kekerasan yang dialami anaknya. Mereka menegaskan bahwa proses hukum harus tetap berjalan hingga tuntas. “Orang tua korban sangat menyayangkan tindakan kekerasan yang terjadi. Korban mengalami luka yang telah diperiksa melalui visum, termasuk pemeriksaan pada bagian dada, serta mengalami trauma dan tekanan psikis akibat peristiwa tersebut,” ungkap Moris menyampaikan pernyataan keluarga korban. Selain menuntut keadilan pidana, aliansi mahasiswa dan alumni ISBA juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk melakukan pengecekan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) terhadap oknum yang diduga terlibat, terkait indikasi penghasilan tidak wajar. Aliansi juga menyoroti dugaan bahwa pelaku pernah melakukan pengembalian dana yang melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta adanya dugaan tekanan psikologis yang bersumber dari persoalan dana-dana tidak wajar atau dana kotor yang berkaitan dengan pengelolaan Asrama ISBA Yogyakarta. “Atas dasar itu, kami menilai tindakan arogansi yang terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan patut didalami lebih jauh oleh aparat hukum,” kata Moris. Sejalan dengan tuntutan sebelumnya, aliansi dan orang tua korban secara tegas meminta pencopotan jabatan Sekda Kabupaten Bangka dan Plh. Kasat Pol PP, yang dinilai telah mencoreng etika jabatan publik serta menunjukkan sikap arogansi yang tidak mencerminkan seorang pejabat negara. Moris juga menegaskan bahwa seluruh aliansi mahasiswa sangat menyayangkan terjadinya kekerasan tersebut, karena pada dasarnya persoalan di asrama seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik. “Mahasiswa ISBA dikenal terbuka dan sangat baik diajak berdialog. Kekerasan bukan solusi dan tidak pernah bisa dibenarkan dalam bentuk apa pun,” ujarnya. Lebih jauh, aliansi mahasiswa dan alumni ISBA berharap agar pengelolaan Asrama ISBA Yogyakarta ke depan dapat diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurut mereka, keberadaan asrama memiliki nilai strategis dan emosional bagi masyarakat Bangka Belitung di perantauan. “Asrama ISBA harus menjadi rumah yang aman, tempat istirahat dan belajar bagi anak-anak Bangka di Yogyakarta. Dengan pengelolaan oleh Pemprov, kami berharap tidak lagi terjadi penyalahgunaan kewenangan,” pungkas Moris. Aliansi ISBA bersama keluarga korban menyatakan akan terus mengawal kasus ini, baik melalui jalur hukum maupun advokasi publik, hingga keadilan benar-benar ditegakkan dan peristiwa serupa tidak kembali terulang.(yak)