BangkaBeritaDaerahPT Timah

Dari Pencegahan hingga Rehabilitasi, Ini Langkah PT TIMAH Perkuat Perlindungan Kesehatan Pekerja

BANGKA, INLENS.id — Membangun budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan perusahaan pertambangan merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan waktu dan komitmen jangka panjang.

Oleh karena itu, PT TIMAH PT TIMAH (Persero) Tbk terus memperkuat komitmennya dalam membangun budaya kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan dengan menempatkan aspek Health, Safety, and Environment (HSE) sebagai fondasi utama dalam setiap proses bisnis perusahaan.

Anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, PT TIMAH menyadari bahwa implementasi budaya HSE menjadi elemen penting dalam mendukung keberlangsungan operasional perusahaan sekaligus menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja di seluruh wilayah operasional.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program kesehatan kerja terpadu yang dijalankan PT TIMAH yang kini sejalan dengan program Occupational Health – Industrial Hygiene (OH-IH). Program ini dirancang untuk mendukung produktivitas karyawan sekaligus meminimalkan risiko kesehatan di lingkungan kerja.

Melalui pendekatan OH-IH, PT TIMAH menargetkan penurunan angka kehilangan hari kerja akibat sakit atau absence severity rate (ASR), menekan jumlah pekerja dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi (medical high-risk employees/MHRE), mencegah penyakit akibat kerja (PAK), hingga menghindari fatalitas akibat penyakit tenaga kerja (illness fatality).

Baca juga  Bangun Harapan di Sekolah Luar Biasa: PT Timah Berikan Pelatihan Membatik Eco Print Bersama SLB Mentok

Sebagai langkah awal, PT TIMAH melakukan Health Risk Assessment (HRA) guna mengidentifikasi berbagai potensi bahaya di lingkungan kerja, seperti kebisingan, debu, paparan bahan kimia, posisi kerja, hingga potensi biologis seperti bakteri.

Setelah itu, PT TIMAH melakukan pemeriksaan lingkungan kerja secara rutin baik internal maupun eksternal untuk memastikan dan memverifikasi potensi risiko kesehatan yang ada di area operasional.

“Pemetaan lingkungan kerja tersebut menjadi dasar penyusunan matriks medical check-up (MCU) bagi karyawan. Para pekerja dengan risiko paparan tertentu mendapatkan pemeriksaan tambahan seperti audiometri, spirometri, hingga biomonitoring,” kata Departement Head Corporate Communication PT TIMAH (Persero) Tbk, Anggi Siahaan.

Hasil evaluasi pemeriksaan lingkungan kerja dan MCU kemudian menjadi panduan pelaksanaan empat pilar upaya kesehatan kerja komprehensif yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan