ArtikelDaerahOpini

Pasca Tambang Bukan Soal Menanam Pohon, tetapi Menyiapkan Kehidupan

Oleh: Ramsyah Al Akhab (Ketua Komunitas Aksara Muda dan Sarjana Teknik Tambang)

Sayangnya, praktik CSR di sektor pertambangan masih sering bersifat karitatif dan berorientasi jangka pendek: membagikan bibit, memberikan alat, atau menyalurkan bantuan sesaat. Program seperti ini memang bermanfaat, tetapi sering berhenti ketika proyek selesai.

Yang dibutuhkan sebenarnya adalah investasi sosial jangka panjang: pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, pembentukan koperasi, penguatan kelembagaan ekonomi, akses terhadap pembiayaan, pengembangan merek produk lokal, hingga pembukaan jaringan pasar. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memiliki usaha, tetapi juga memiliki ekosistem ekonomi yang mampu bertahan tanpa bergantung pada tambang.

Social License to Operate: Warisan Terbaik Sebuah Tambang

Dalam perspektif Social License to Operate (SLO), keberhasilan perusahaan tambang tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap regulasi atau besarnya kontribusi ekonomi selama operasi berlangsung. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan perusahaan meninggalkan warisan sosial yang berkelanjutan.

Apabila manfaat tambang hanya berupa lapangan pekerjaan selama masa produksi, maka ketika tambang berhenti, hubungan harmonis antara perusahaan dan masyarakat berpotensi berubah menjadi konflik sosial. Sebaliknya, apabila masyarakat telah memiliki ekonomi yang mandiri, maka tambang akan dikenang sebagai pemicu lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Mengubah Paradigma Pasca Tambang

Sudah saatnya paradigma pasca tambang diubah.

Baca juga  Mahasiswa di Pangkalpinang Ditangkap, Simpan 410 Gram Ganja Siap Edar

Selama ini pola yang berkembang kurang lebih seperti berikut:

Tambang → Tambang selesai → CSR → Pelatihan → Masyarakat mencari usaha → Lahan pasca tambang dimanfaatkan.

Paradigma tersebut perlu dibalik menjadi:

Tambang mulai beroperasi → CSR dan pemberdayaan berjalan → Usaha masyarakat tumbuh → Pasar terbentuk → Tambang selesai → Lahan pasca tambang dimanfaatkan untuk memperbesar usaha yang telah berkembang.

Dalam paradigma baru ini, lahan pasca tambang bukan lagi menjadi tempat masyarakat belajar memulai usaha dari nol. Sebaliknya, lahan tersebut menjadi aset produktif untuk memperluas usaha yang telah tumbuh selama masa operasi tambang.

Dengan demikian, orientasi pasca tambang tidak lagi sekadar post-mining development, melainkan preparing post-mining economy during mining operation—mempersiapkan ekonomi pasca tambang sejak tambang masih beroperasi.

Pada akhirnya, keberhasilan pasca tambang tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak pohon yang ditanam atau seberapa luas lahan yang direklamasi. Keberhasilan yang sesungguhnya diukur dari satu pertanyaan yang lebih mendasar: ketika tambang berhenti, apakah masyarakat masih memiliki kehidupan yang layak?

Jika jawabannya belum, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya lahannya, tetapi juga cara kita memandang makna pasca tambang itu sendiri.

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Tinggalkan Balasan