Pramuka: Dari Pendidikan Karakter Menjadi Mesin Kepentingan dan Cuan
Ditulis : Arya Ramandanu (Wartawan dan Penggiat Pramuka)

PANGKALPINANG,INLENS.id – Gerakan Pramuka selama ini dikenal sebagai organisasi pendidikan nonformal yang membentuk karakter, menanamkan disiplin, cinta tanah air, dan kepedulian sosial. Namun, idealisme itu kini kian memudar. Banyak yang harus berani mengakui: Pramuka telah berubah menjadi kendaraan kepentingan dan mesin cuan bagi segelintir pihak.
Dari Tenda ke Kwitansi
Bukan rahasia lagi, di berbagai daerah kegiatan Pramuka bergeser menjadi proyek rutin “menghabiskan anggaran”. Kemah bakti, jambore, pelatihan, hingga pengadaan seragam dan perlengkapan, sering kali dijadikan ladang bisnis. Nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, dan gotong royong tenggelam di bawah tumpukan proposal, kwitansi, dan paket pengadaan.
Program pembinaan kerap lebih diarahkan untuk memajang tokoh tertentu di panggung ketimbang meningkatkan kompetensi peserta didik. Panggung megah, spanduk besar, dan liputan media lebih diutamakan daripada proses pendidikan yang nyata.
Skandal Rp 6,5 Miliar di Bandung
Fakta teranyar datang dari Kota Bandung. Kejaksaan Tinggi Jawa Barat menetapkan empat pejabat sebagai tersangka kasus korupsi dana hibah Pramuka senilai Rp 6,5 miliar untuk anggaran 2017, 2018, dan 2020.
Para tersangka meliputi:
Eddy Marwoto — Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung
Dodi Ridwansyah — mantan Kadispora
Yossi Irianto — mantan Sekda sekaligus Ketua Kwarcab Pramuka
Deni Nurhadiana Hadimin — mantan Ketua Harian Kwarcab
Mereka diduga menyelipkan biaya representatif pengurus dan honorarium staf yang tidak diatur dalam keputusan resmi Wali Kota, serta membuat laporan pertanggungjawaban fiktif. Kerugian negara ditaksir mencapai 20% dari total dana hibah yang cair.
